Blog Guru PPKn

Nilai-nilai Pancasila dalam Kerangka Praktik Penyelenggaraan Kekuasaan Negara.

Blog Guru PPKn

Upaya Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Blog Guru PPKn

Perlindungan dan Penegakan Hukum di Indonesia.

Kamis, 07 April 2022

2.3.a.9. Koneksi Antarmateri – Coaching


A.    Pendidikan Sistem Among

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru dapat berperan sebagai edukator, manajer, motivator, fasilitator, coach, mentor, maupun administrator bagi peserta didik. Namun peran penting dari kepemimpinan seorang guru adalah sebagai agen perubahan dan agen transformasi di dunia pendidikan. Tugasnya adalah menuntun tumbuh kembangnya kekuatan kodrat yang dimiliki oleh peserta didik, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya. Dalam proses menuntun, peserta didik diberi kebebasan dan pendidik/guru sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan arahan agar peserta didik tidak kehilangan arah. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan agar peserta didik dapat menemukan kemerdekaan dan kebahagiannya dalam belajar.

B.     Pengertian Coaching

Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil, dan sistematis dimana coach sebagai fasilitator untuk meningkatkan performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi coachee.

C.    Perbedaan Coaching, Konseling, dan Mentoring

Perbedaan coaching, konseling, dan mentoring dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Coaching dilakukan dengan tujuan agar coachee dapat menyelesaikan permasalahannya dengan memaksimalkan potensinya sendiri. Hubungan antara coach dengan coachee adalah kemitraan. Dalam hubungan ini akan membantu coachee mengarahkan untuk mengambil keputusannya sendiri. Coaching dapat dilakukan oleh seorang yang ahli di bidang coach, guru, atau rekan sejawat
  •  Konseling dilakukan dengan tujuan untuk membantu konseli dalam memecahkan masalahnya, konselor juga dapat langsung memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Konseling dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidangnya.
  • Mentoring dilakukan dengan tujuan untuk membantu mentee menyelesaikan masalah dengan berbagi pengalaman atau berbagi tips bagaimana menyelesaikan masalah.

D.    Prinsip-prinsip Coaching

Terdapat 3 prinsip-prinsip coaching, yaitu:
1. Kemitraan
Kemitraan ditandai adanya tujuan percakapan yang disepakati oleh coachee.
2. Percakapan dua arah
Hal ini dilakukan untuk menggali, memetakan situasi coachee, atau memunculkan pemikiran atau ide-ide yang baru.
3. Memaksimalkan potensi
Percakapan ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh coachee serta menghasilkan rencana dan komitmen

E.     Keterampilan Dasar Coaching

Ada 3 keterampilan dasar dalam melaksanakan coaching, yaitu:
1. Keterampilan membangun hubungan baik (kemitraan)
2. Keterampilan berkomunikasi
3. Keterampilan memfasilitasi pembelajaran

Untuk mendukung terlaksananya coaching, seorang coach harus membangun komunikasi yang memberdayakan. Ada 4 aspek komunikasi yang memberdayakan, yaitu:
1. Komunikasi Asertif
2. Pendengar aktif yang mendengarkan dengan rasa (receive, appreciative, summary, ask)
3. Bertanya efektif, terbuka, fokus pada tujuan, reflektif, mengukur pemahaman, eskplorasi, dan aksi.
4. Umpan balik positif

F.     Coaching Model Tirta

Dalam membangun semangat merdeka belajar dan meningkatkan potensi murid, seorang guru tentunya harus menguasai keterampilan coaching. Model Tirta merupakan salah satu yang dapat diterapkan dalam praktik coaching. Terdapat 4 tahapan coaching model TIRTA, yaitu:
1. Tujuan Utama
2. Identifikasi
3. Rencana Aksi
4. Tanggung Jawab

G.    Keterkaitan Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Memiliki tujuan yang sama yaitu, untuk meningkatkan potensi murid sesuai bakat, minat, dan kesiapan belajar. Melalui pembelajaran berdiferensiasi guru diharapkan menerapkan coaching model TIRTA sebagai salah satu cara untuk menuntun dan mengembangkan potensi murid sesuai kemampuannya sendiri.

H.    Keterkaitan Coaching dengan Keterampilan Sosial Emosional.

Coaching sangat berkaitan dengan keterampilan sosial emosional saat coach melaksanakan coaching, tentunya harus memiliki dan mampu mengimplementasikan 5 kompetensi dasar keterampilan sosial emosional, yaitu;
1. Kesadaran diri
2. Pengelolaan diri
3.  Kesadaran sosial
4. Keterampilan sosial
5. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Dalam menuntun, membimbing dan mengarahkan coachee, seorang coach harus dapat mendorong dan menggali segala potensi yang ada pada dirinya dalam kegiatan rutin, terintegrasi dalam mata pelajaran dan protokol.

I.       Refleksi
1. Melalui coaching akan terbangun kolaborasi antara coach dan coachee untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi agar hidupnya menjadi bahagia.
2. Kemampuan komunikasi yang memberdayakan menjadi kunci dari proses coaching sebab coach akan menuntun dengan berbagai pendekatan dan teknik untuk mendorong coachee agar dapat menemukan solusi dan mengambil keputusan dari permasalahannya sendiri berdasarkan potensi yang dimilikinya.

J.      Kesimpulan

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi menggunakan keterampilan sosial emosional dan coaching model TIRTA dapat mewujudkan merdeka belajar sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara.

Kamis, 17 Februari 2022

AKSI NYATA DAN DISEMINASI MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF


A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah sebuah tuntunan dalam hidup dan tumbuh kembang anak. Setiap anak memiliki kekuatan dirinya sendiri, memiliki pengalaman dan kekayaan. Pendidikan haruslah membimbing dan menguatkan apa yang ada di dalam diri setiap anak agar dapat memperbaiki tingkah lakunya, cara hidupnya dna pertumbuhannya. Dalam proses menuntut, anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang merdeka.

Ki Hajar Dewantara (KHD) mengingatkan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Guru sebagai pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Dalam proses menuntun tersebut, anak  diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang unik, akan tetapi guru sebagai pamong harus memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Guru diharapkan memiliki nilai-nilai positif yang dibutuhkan untuk membentuk karakter pelajar Pancasila dengan memberi contoh dan melakukan pembiasaan yang konsisten di sekolah. Pengembangan budaya positif dapat menumbuhkan motivasi instrinsik dalam diri anak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta akhlak mulia. Sangat penting bagi guru untuk dapat  mengembangkan budaya positif di sekolah  agar  dapat menumbuhkan motivasi intrinsik  dalam diri murid-muridnya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab  dan  berbudi pekerti luhur.

Perlu kita ketahui bersama bahwa tujuan membangun  budaya positif di sekolah adalah menumbuhkan karakter anak. Kita semua percaya bahwa tujuan penting sekolah adalah pembentukan karakter. Guru perlu membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat. 

Dalam menerapkan budaya positif, tentunya tidak terlepas dari bagaimana kemampuan warga sekolah mengenali, merefleksikan atau pun mengevaluasi diri masing-masing atas segala kejadian atau pengalaman yang telah berlalu. Mengenali diri, merefleksi atau mengevaluasi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Ini adalah suatu yang harus dilakukan dengan sadar dan terencana. Tidak spontan. Untuk itu perlu diberi ruang dan peluang. Di sana orang merenungkan apa yang sudah dilakukannya. Hal ini harus dilakukan agar kita mendapat kekuatan baru untuk melangkah ke depan dan menciptakan budaya positif di sekolah yang dapat menumbuhkan karakter positif  yang bukan hanya mendorong murid untuk sukses secara akademik tetapi juga untuk menanam moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat. Oleh karena itu, betapa pentingnya menumbuhkan budaya positif di sekolah dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri).

 

B.     Tujuan


       Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan pelaksanaan aksi nyata, yaitu:

  1. Terwujudnya visi sekolah melalui penerapan budaya positif
  2. Menumbuhkan karakter yang kuat melalui pembiasaan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri.
  3. Menguatkan karakter positif melalui pembiasaan-pembiasaan positif
  4. Menumbuhkembangkan karakter profil pelajar Pancasila yaitu pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
  5. Menguatkan peran sebagai guru penggerak melalui penerapan dalam menanamkan disiplin positif pada peserta didik

C.    Deskripsi Aksi Nyata
1. Perencanaan
    Pada tahap perencanaan, hal-hal yang dilakukan, yaitu:
    a. Menyusun rancangan aksi nyata
    b. Membuat instrumen
    c. Mendiskusikan rencana dengan rekan sejawat
    d. Koordinasi rencana aksi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
    e. Koordinasi rencana aksi dengan pimpinan (Kepala Sekolah)
  f. Melakukan revisi terhadap rancangan aksi nyata sebagai tindak lanjut dari hasil konsultasi dengan rekan sejawat, Waka Kurikulum dan Kepala Sekolah

    2. Pelaksanaan

        a. Melaksanakan budaya positif dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan positif di kelas maupun di lingkungan sekolah tentunya dengan penerapan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri.
        b. Melakukan diseminasi konsep dan implementasi budaya positif dengan rekan sejawat dan Kepala Sekolah.
        c. Melakukan kegiatan pembentukan dan deklarasi keyakinan kelas
        d. Melakukan aksi layanan segitiga restitusi
        e. Penerapan disiplin positif.

3. Evaluasi
          Hal-hal yang dilakukan pada tahap evaluasi, yaitu:
    a. Pengolahan data hasil aksi nyata
    b. Melakukan pembahasan hasil aksi nyata
    c. Pengambilan kesimpulan
    d. Penyusunan rencana tindak lanjut
    e. Membuat video dan artikel serta laporan aksi nyata 

D.    Hasil Aksi Nyata (Tolok Ukur Keberhasilan)
Berdasarkan hasi aksi nyata menumbuhkan budaya positif dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri), maka diperoleh hasil aksi nyata (tolok ukur keberhasilan) sebagai berikut:
1. Pembiasaan-pembiasaan positif di kelas maupun di lingkungan sekolah tentunya dengan penerapan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri) semakin tumbuh dan berjalan dengan baik.
2. Terciptanya sikap saling memahami kelebihan dan kekurangan diri dan saling mengenali pola kebiasaan yang sering dijalani di kelas dan di sekolah.
3. Terbentuknya keyakinan kelas yang dideklarasikan secara bersama sebagai landasan utama dalam menyikapi segala permasalahan yang muncul di kelas maupun di sekolah.
4. Dukungan dari Kepala Sekolah, rekan guru, dan peserta didik menjadi kekuatan dalam pelaksanaan kegiatan.
5. Komitmen bersama antara guru dan peserta didik dalam menjalankan keyakinan kelas dalam pembelajaran secara konsisten
6. Meningkatnya keaktifan dan daya nalar kritis peserta didik dalam kegiatan pembelajaran

E.     Tantangan

Dalam melaksanakan kegiatan aksi nyata dan diseminasi budaya positif, tentunya terdapat berbagai hal yang menjadi tantangan tersendiri, yaitu:
1. Pelaksanaan kegiatan yang berjalan agak lama karena pandemi Covid-19.
2. Belum semua rekan guru menerapkan budaya positif di kelas, seperti keyakinan kelas dan layanan segiitiga restitusi.
3. Komunikasi yang kurang efektif oleh adanya perbedaan pandangan/konsep dalam mendidik dan menciptakan budaya positif.

F.     Refleksi
Dalam melaksanakan aksi nyata menumbuhkan budaya positif dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri), tentunya terdapat berbagai pelajaran yang bisa dipetik sebagai pengalaman berharga, yaitu:
1. Kegiatan aksi nyata dan diseminasi yang baik harus terencana dengan baik
2. Pentingnya arti menghargai dan mengapresiasi segala yang terdapat pada diri peserta didik
3. Dalam pendidikan, warga sekolah harus membiasakan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri demi tercapainya pendidikan yang lebih baik.
4. Komunikasi yang baik menjadi salah satu faktor utama dalam menjalin hubungan yang harmonis di antara warga sekolah.
5. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan.

G.    Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

     Dalam pelaksanaan aksi nyata, tentunya masih ditemukan hal-hal yang perlu ditingkatkan sehingga perlu perbaikan di masa mendatang. Rencana perbaikan yang akan dilakukan, yaitu:
1. Menyusun instrumen umpan balik yang akan diberikan pada peserta didik dan rekan guru terkait aksi nyata yang dilakukan.
2. Melakukan diskusi dengan peserta didik dan rekan guru terkait ide atau saran yang diperlukan demi peningkatan aksi nyata
3. Membangun komunikasi yang efektif dalam menyatukan konsep pembiasaan budaya positif di sekolah.

H.    Dokumentasi Kegiatan
1. Membuat Rancangan Aksi Nyata dan Diseminasi Konsep dan Implementasi Budaya Positif Melalui Koordinasi dengan Pimpinan/Kepala Sekolah.

2. Pembiasaan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri peserta (menggali kelebihan dan kelemahan pada diri).



3. Membangun dan mendeklarasikan keyakinan kelas





     4. Membangun konsep pentingnya arti menghargai





  5. Diseminasi konsep dan implementasi budaya positif

           

             6. Link Video Youtube

a.       1.4.Aksi Nyata – Budaya Positif

https://youtu.be/2lU9QHSU79A

b.      Diseminasi Konsep dan Implemntasi Budaya Positif di Sekolah

https://youtu.be/lNJ-wRFA7dQ


Terima Kasih

Salam Guru Penggerak
Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan












Kamis, 30 Desember 2021

AKSI NYATA MODUL 1.1 PENERAPAN PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA DI KELAS DAN DI SEKOLAH

A.    Latar Belakang

Perkembangan dunia pendidikan yang sangat pesat tentunya membuka ruang yang seluas-luasnya bagi guru sebagai agen transformasi pendidikan untuk terus belajar mengasah potensi yang dimiliki. Dalam meningkatkan kompetensi yang dimiliki, guru di Indonesia selayaknya harus berpijak pada pemikiran fiosofis Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara untuk diterapkan pada dunia pendidikan saat ini. Ki Hadjar Dewantara menegaskan tentang tujuan dari pendidikan, yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara juga mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, pendidik dengan segenap hati dan jiwa menuntun agar anak tidak kehilangan arah. Memberikan ruang bagi anak agar bisa bebas belajar untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Seperti dalam penerapan filosofi pendidikan saat ini tentang Merdeka Belajar.

Semangat Merdeka Belajar yang sedang dicanangkan ini juga memperkuat tujuan pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, dimana Pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Kedua semangat ini yang kemudian memunculkan sebuah pedoman, sebuah penunjuk arah yang konsisten, dalam pendidikan di Indonesia. Pedoman tersebut adalah Profil Pelajar Pancasila (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020).

Profil Pelajar Pancasila ini dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan Indonesia. Tidak hanya untuk kebijakan pendidikan di tingkat nasional saja, akan tetapi diharapkan juga menjadi pegangan untuk para pendidik dalam membangun karakter anak di ruang belajar dengan berbagai situasi dan kondisi. Pelajar Pancasila dalam hal ini adalah pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini adalah: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif.

Menuntun segala kekuatan kodrat bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu di ruang-ruang pembelajaran dimana guru dan peserta didik berinteraksi secara langsung. Peran guru menciptakan suasana merdeka belajar yang nyaman dan membuat murid Bahagia serta bersemangat untuk mengikuti pembelajaran dari awal sampai akhir. Selain itu guru juga harus mampu menggali dan mengembangkan potensi murid serta mengakomodasi karakteristik massing-masing peserta didik.

Usaha yang bisa kita lakukan sebagai guru adalah mampu mendesain sebuah pembelajaran menarik dan menyenangkan yang mampu menciptakan kondisi belajar yang lebih aktif dalam bernalar dan berpikir kritis. Dalam hal ini guru harus memperhatikan salah satu dasar pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara yaitu azas trikon yang meliputi:


a.  Kontinyu berarti pendidikan haruslah berkembang secara terus-menerus dan berkesinambungan.
b. Konvergen berarti pendidikan juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tetapi tidak meninggalkan akar budaya asalnya.
c. Konsentris berarti perkembangan pendidikan haruslah menghargai keunikan, keragaman dan memerdekakan peserta didik yang berdasarkan kepribadian kita sendiri

Oleh karena itu, hal-hal yang melatarbelakangi pelaksanaan aksi nyata ini sebagai penerapan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam hal penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan sistem pembelajaran Blended Learning, yaitu proses pembelajaran yang dilakukan masih didominasi oleh guru, pentingnya pemikiran KHD tentang pendidikan yang memerdekakan, tantangan global tentang perlunya perubahan paradigma pembelajaran, perubahan strategi pembelajaran, dan penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

B.     Tujuan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan pelaksanaan aksi nyata ini sebagai penerapan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam hal penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan sistem pembelajaran Blended Learning, yaitu:

1. Proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik

Meskipun dalam kondisi pembelajaran yang serta terbatas, tapi diharapkan aksi nyata ini dapat mengubah proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered learning), sehingga peserta didik mmpu bertanggung jawab lebih untuk memantau kemajuan belajar mereka sendiri. Selain itu, Peserta didik lebih terlibat jauh dalam berpikir tingkat yang lebih tinggi (high order thinking), semakin terbiasa berdiskusi dengan kelompoknya mengeksplorasi secara mandiri terhadap suatu permasalahan, memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman mendalam yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

2. Terciptanya pembelajaran yang merdeka.

Pembelajaran yang merdeka dalam hal ini adalah terciptanya suasana-suasana yang membahagiakan dalam pembelajaran. Karena setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Guru harus mampu menjadi teman belajar yang menyenangkan agar proses belajar anak benar-benar atas kesadaraannya sendiri dan merdeka atas pilihannya. Diperlukan kesabaran dalam memfasilitasi, agar anak mampu untuk mengenali potensinya. Karena bakat anak bisa tumbuh ketika anak sudah memiliki minat dan mau berlatih untuk mengasah keterampilannya. Dalam mengawali proses belajar, pendidik juga perlu memiliki kemampuan mendengar yang baik. Tidak hanya sekadar mentransfer pengetahuan dan mendikte anak-anak atas kehendak pendidik.

Pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dan proses pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk mendengarkan pertanyaan atau pandangan peserta didik. Aktivitas belajar lebih menekankan pada keterampilan berpikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan menyusun hipotesis.

           3.  Perubahan paradigma pembelajaran

Perkembangan IPTEK dan dinamika masyarakat Indonesia dan dunia saat ini sudah mengalami kemajuan dan perubahan yang relatif sangat cepat, terlebih dengan perkembangan dan kemajuan  teknologi informasi dan komunikasi. Guru sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah, sekaligus menjadi agen pembaharuan dan pembangunan sumberdaya manusia,  maka sudah sepantasnya melakukan perubahan positif dalam proses pembelajaran, baik secara individual dan kolektif, agar tidak tertinggal jauh dari perkembangan dan dinamika masyarakat. Perubahan  dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk mengikuti dan menyeimbangkan kemajuan IPTEK, khususnya bidang teknologi informasi dan komunikasi.

     4.  Perubahan strategi pembelajaran

Proses pembelajaran yang diterapkan guru selama ini menggunakan pola 'guru sebagai sumber utama' dan model pembelajaran kurang menarik sehingga yang terjadi peserta didik menjadi pasif, jenuh, dan pembelajaran tidak bermakna. Maka diharapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam kondisi pembelajaran Blended Learning mampu menciptkan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.

5.  Peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Seperti diketahui bahwa model pembelajaran problem based learning dalam tahapannya mengarahkan peserta didik pada suatu pemecahan masalah pembelajaran dengan caranya sendiri. Peserta didik secara mandiri mencari dan memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapinya sehingga peserta didik akan terbiasa menggunakan nalarnya untuk berpikir kritis dalam pemecahan masalah.

C.    Deskripsi Aksi Nyata
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, hal-hal yang dilakukan, yaitu:
a. Menyusun rencana pembelajaran
b. Membuat instrumen
c. Mendiskusikan rencana dengan guru serumpun
d. Koordinasi rencana aksi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
e. Koordinasi rencana aksi dengan pimpinan (Kepala Sekolah)

2. Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan disesuikan dengan langkah-langkah model pembelajaran problem based learning (PBL)
a. Orientasi peserta didik pada masalah
-  Peserta didik ditunjukkan sebuah video ilustrasi berisi masalah yang terdapat dalam sebuah kasus.
- Peserta didik diminta untuk mengamati dan memahami masalah tersebut secara individu, serta mengajukan hal-hal yang belum dipahami terkait masalah yang disajikan.
b. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
- Peserta didik diminta untuk membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 5-6 peserta didik.
- Guru menginstruksikan pada tiap kelompok untuk membuka folder diskusi kelomopok pada LMS Schoology.
- Peserta didik diminta mengunduh LKPD pada LMS Schoology, yang berisikan masalah dan tugas memuat langkah-langkah pemecahan serta meminta peserta didik berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah.
- Peserta didik diminta bekerja sama dalam kelompok untuk memikirkan secara cermat strategi pemecahan yang berguna untuk pemecahan masalah.
c. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
- Peserta didik diminta untuk bereksperimen dengan media yang disediakan untuk menyelesaikan masalah.
- Guru memperhatikan dan mendorong peserta didik agar secara aktif terlibat dalam diskusi kelompok serta saling membantu dalam menyelesaikan masalah tersebut, mengarahkan bila ada kelompok perlu bantuan.
d. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
- Peserta didik diminta untuk menyiapkan hasil diskusi kelompok secara rapi, rinci, dan sistematis.
- Setiap kelompok diminta mengupload hasil diskusi pada folder yang tersedia di LMS Schoology.
e. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
- Guru meminta peserta didik dari salah satu kelompok untuk mempresentasikan (mengkomunikasikan) hasil diskusinya di depan kelas secara runtut, sistematis, santun, dan hemat waktu.
- Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik dari kelompok lain untuk memberikan tanggapan terhadap hasil diskusi kelompok penyaji dengan sopan.
- Guru melibatkan peserta didik mengevaluasi jawaban kelompok penyaji serta masukan dari peserta didik yang lain.
- Melalui tanya jawab, peserta didik diarahkan pada kesimpulan mengenai permasalahan tersebut.

      3. Evaluasi
Hal-hal yang dilakukan pada tahap evaluasi, yaitu:
a. Pengolahan data hasil pengamatan.
b. Melakukan pembahasan hasil pengolahan data
c. Pengambilan kesimpulan
d. Penyusunan rencana tindak lanjut
e. Membuat video aksi nyata 

D.    Hasil Aksi Nyata

Terdapat beberapa hal yang menjadi tujuan dalam pelaksanaan aksi nyata yang telah dijabarkan di atas. Oleh karena itu, berdasarkan aksi nyata yang telah dilaksanakan, diperoleh suatu hasi sebagai berikut:
1. Teacher Centered menjadi Student Centered (pembelajaran yang berpusat pada peserta didik)
2. Terciptanya pembelajaran yang merdeka
3. Meningkatnya kemampuan berpikir peserta didik
4. Testimoni yang positif dari rekan guru dan peserta didik

E.     Refleksi Aksi Nyata

Berdasarkan hasi aksi nyata sebagai penerapan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam hal penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan sistem pembelajaran Blended Learning, diperoleh berbagai pembelajaran penting sebagai refleksi pelaksanaan aksi nyata.
1. Pembelajaran yang baik harus terencana dengan baik
2. Pendidikan harus menghargai keberagaman dan memerdekakan peserta didik
3. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutukan.

F.     Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

        Dalam pelaksanaan aksi nyata, tentunya masih ditemukan hal-hal yang perlu ditingkatkan sehingga perlu perbaikan di masa mendatang. Rencana perbaikan yang akan dilakukan, yaitu:
1. Menyusun instrumen umpan balik yang akan diberikan pada peserta didik dan rekan guru terkait aksi nyata yang dilakukan.
2. Melakukan diskusi dengan peserta didik dan rekan guru terkait ide atau saran yang diperlukan demi peningkatan aksi nyata yang dilakukan.

G.    Dokumentasi Kegiatan
1. Koordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum terkait rencana aksi nyata.

       2. Koordinasi dengan pimpinan/Kepala Sekolah terkait rencana aksi nyata
        3. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) dengan sistem pembelajaran blended learning.




4. Testimoni positif dari rekan guru




5. Testimoni positif dari peserta didik



6. Video Dokumentasi
Aksi Nyata 1.1 Penerapan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara di Kelas dan di Sekolah



Terima Kasih
Salam Guru Penggerak
"Guru Bergerak Indonesia Maju"

Sabtu, 04 Juli 2020

Upaya Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM)

Materi ini berisi tentang upaya penegakan Hak Asasi Manusia (HAM)

1. Upaya Pemerintah dalam Menegakkan HAM
Semua negara di dunia sepakat untuk menyatakan penghormatan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia yang universal melalui berbagai upaya penegakan HAM. Akan tetapi, pelaksanaan hak asasi manusia dapat saja berbeda antara satu negara dengan negara lain. Ideologi, kebudayaan, dan nilai-nilai khas yang dimiliki suatu bangsa akan memengaruhi sikap dan perilaku hidup berbangsa. Misalnya di Indonesia, semua perilaku hidup berbangsa diukur dari kepribadian Indonesia yang tentu saja berbeda dengan bangsa lain. Bangsa Indonesia dalam proses penegakan HAM tentu saja mengacu pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta peraturan perundang-undangan lainnya. Dengan kata lain, penegakan HAM di Indonesia tidak berorientasi pada pemahaman HAM liberal dan sekuler yang tidak selaras dengan makna sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
Selain mengacu pada peraturan perundang-undangan nasional, proses penegakan HAM di Indonesia juga mengacu kepada ketentuan-ketentuan hukum internasional yang pada dasarnya memberikan wewenang luar biasa kepada setiap negara. Berkaitan dengan hal tersebut, Idrus Affandi dan Karim Suryadi menegaskan bahwa bangsa Indonesia dalam proses penegakan HAM sangat mempertimbangkan dua hal di bawah ini.
a. Kedudukan negara Indonesia sebagai negara yang berdaulat baik secara hukum, sosial, maupun politik harus dipertahankan dalam keadaan apa pun sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut dalam piagam PBB.
b. Dalam pelaksanaannya, pemerintah harus tetap mengacu kepada ketentuan-ketentuan hukum internasional mengenai HAM. Kemudian menyesuaikan dan memasukkannya ke dalam sistem hukum nasional serta menempatkannya sedemikian rupa sehingga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem hukum nasional.
Pemerintah Indonesia dalam proses penegakan HAM ini telah melakukan langkah-langkah strategis, di antaranya sebagai berikut.

a. Pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
Komnas HAM dibentuk pada 7 Juni 1993 melalui Keppres Nomor 50 Tahun 1993. Keberadaan Komnas HAM selanjutnya diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asas Manusia pada pasal 75 sampai dengan pasal 99. Komnas HAM merupakan lembaga negara mandiri setingkat lembaga negara lainnya yang berfungsi sebagai lembaga pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi HAM. Komnas HAM beranggotakan 35 orang yang dipilih oleh DPR berdasarkan usulan Komnas HAM dan ditetapkan oleh presiden. Masa jabatan anggota Komnas HAM selama lima tahun dan dapat diangkat lagi hanya untuk satu kali masa jabatan.
Komnas HAM mempunyai wewenang sebagai berikut.
1. Melakukan perdamaian pada kedua belah pihak yang bermasalah.
2. Menyelesaikan masalah secara konsultasi maupun negosiasi.
3. Menyampaikan rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada pemerintah dan DPR untuk ditindaklanjuti.
4. Memberi saran kepada pihak yang bermasalah untuk menyelesaikan sengketa di pengadilan. Setiap warga negara yang merasa hak asasinya dilanggar boleh melakukan pengaduan kepada Komnas HAM. Pengaduan tersebut harus disertai dengan alasan, baik secara tertulis maupun lisan dan identitas pengadu yang benar.
Dalam hubungannya dengan penegakan HAM, Pancasila mengajarkan hal-hal berikut.
a) Sesungguhnya Tuhan YME adalah pencipta alam semesta.
b) Manusia adalah makhluk Tuhan YME yang mendapat anugerah-Nya berupa kehidupan, kebebasan, dan harta milik.
c) Sebagai makhluk yang mempunyai martabat luhur, manusia mengemban kewajiban hidupnya yaitu:
1) Berterima kasih, berbakti, dan bertakwa kepada-Nya.
2) Mencintai sesama manusia.
3) Memelihara dan menghargai hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki sesuatu.
4) Menyadari pelaksanaan hukum yang berlaku.

b. Pembentukan Instrumen HAM.

Instrumen HAM merupakan alat untuk menjamin proses perlindungan dan penegakan hak asasi manusia. Instrumen HAM biasanya berupa peraturan perundang-undangan dan lembaga-lembaga penegak hak asasi manusia, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Pengadilan HAM. Instrumen HAM yang berupa peraturan perundang-undangan dibentuk untuk menjamin kepastian hukum serta memberikan arahan dalam proses penegakan HAM. Adapun peraturan perundang-undangan yang dibentuk untuk mengatur masalah HAM sebagai berikut.

1. Pada amandemen kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah ditetapkan satu bab tambahan dalam batang tubuh yaitu bab XA yang berisi mengenai hak asasi manusia, melengkapi pasal-pasal yang lebih dahulu mengatur mengenai masalah HAM.
2. Dalam Sidang Istimewa MPR 1998 dikeluarkan Ketetapan MPR mengenai hak asasi manusia yaitu TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998.
3. Ditetapkannya Piagam HAM Indonesia pada tahun 1998.
4. Diundangkannya Undang-Undang RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang diikuti dengan dikeluarkannya Perpu Nomor 1 Tahun 1999 tentang pengadilan HAM yang kemudian ditetapkan menjadi sebuah undang-undang, yaitu Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
5. Ditetapkannya peraturan perundang-undangan tentang perlindungan anak yaitu:
a) Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak,
b) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan
c) Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.
6. Meratifkasi instrumen internasional selama tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. instrumen internasional yang diratifkasi di antaranya sebagai berikut.
a. Konvensi Jenewa 12 Agustus 1949. telah diratifkasi dengan Undang Undang RI Nomor 59 Tahun 1958.
b. Konvensi Tentang Hak Politik Kaum Perempuan (Convention of Political Rights of Women). Telah diratifkasi dengan Undang-Undang RI Nomor 68 Tahun 1958.
c. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elmination of Discrimination againts Women). 7elah diratifkasi dengan Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 1984.
d. Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child). Telah diratifkasi dengan Keputusan Presiden Nomor 36 7ahun 1990.
e. Konvensi Pelarangan Pengembangan, Produksi dan Penyimpanan Senjata Biologis dan beracun serta pemusnahannya (Convention on the Prohibition of the Development, Production and Stockpilling of Bacteriological (Biological) and Toxin Weapons and on their Destruction). Telah diratifkasi dengan keputusan Presiden Nomor 58 Tahun 1991.
f. Konvensi Internasional terhadap Anti Apartheid dalam Olahraga (International Convention Againts Apartheid in Sports). Telah diratifkasi dengan Undang-Undang RI Nomor 48 Tahun 1993.
g. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or degreeling Treatment or Punishment). Telah diratifkasi dengan Undang-Undang RI, Nomor 5 Tahun 1998.
h. Konvensi Organisasi Buruh Internasional Nomor 87 Tahun 1998 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi (ILO Convention No. 87, 1998 Concerning Freedom of Association and Protection of the Rights to Organise). Telah diratifkasi dengan Keputusan Presiden Nomor 83 Tahun 1998.
i. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Rasial (Convention on the Elemination of Racial Discrimination). Telah diratifkasi dengan 8ndang-8ndang R, 1RmRr 29 7ahun 1999.
j. Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights). Telah diratifkasi dengan Undang -Undang RI Nomor 11 tahun 2005.
k. Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights.) Telah diratifkasi dengan Undang -Undang RI Nomor 12 tahun 200.

c. Pembentukan Pengadilan HAM

Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2000. Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran HAM berat yang diharapkan dapat melindungi hak asasi manusia, baik perseorangan maupun masyarakat. Pengadilan HAM menjadi dasar bagi penegakan, kepastian hukum, keadilan dan perasaan aman, baik perseorangan maupun masyarakat.
Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Di samping itu, berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang dilakukan oleh warga negara Indonesia dan terjadi di luar batas teritorial wilayah Indonesia.

2. Upaya Penanganan Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia
a. Upaya Pencegahan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pernyataan itu tentunya sudah sering kalian dengar. Pernyataan tersebut sangat relevan dalam proses penegakan HAM. Tindakan terbaik dalam penegakan HAM adalah dengan mencegah timbulnya semua faktor penyebab pelanggaran HAM. Apabila faktor penyebabnya tidak muncul pelanggaran HAM pun dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan.
Berikut ini tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi berbagai kasus pelanggaran HAM.
1) Menegakkan supremasi hukum dan demokrasi. Pendekatan hukum dan pendekatan dialogis harus dikemukakan dalam rangka melibatkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pejabat penegak hukum harus memenuhi kewajiban dengan memberikan pelayanan yang baik dan adil kepada masyarakat, memberikan perlindungan kepada setiap orang dari perbuatan melawan hukum, dan menghindari tindakan kekerasan yang melawan hukum dalam rangka menegakkan hukum.
2) Meningkatkan kualitas pelayanan publik untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk pelanggaran HAM oleh pemerintah.
3) Meningkatkan pengawasan dari masyarakat dan lembaga-lembaga politik terhadap setiap upaya penegakan HAM yang dilakukan oleh pemerintah.
4) Meningkatkan penyebarluasan prinsip-prinsip HAM kepada masyarakat melalui lembaga pendidikan formal (sekolah/perguruan tinggi) maupun non-formal (kegiatan-kegiatan keagamaan dan kursus-kursus). Meningkatkan profesionalisme lembaga keamanan dan pertahanan negara.
5) Meningkatkan kerja sama yang harmonis antarkelompok atau golongan dalam masyarakat agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan pendapat masing-masing

b. Membangun Harmonisasi Hak dan Kewajiban Asasi Manusia
Hak dan kewajiban asasi manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Seseorang tidak dapat menikmati hak yang dimilikinya, sebelum memenuhi apa yang yang menjadi kewajibannya. Misalnya, dalam proses pembelajaran di sekolah, kalian tidak akan mendapatkan pemahaman yang baik dalam sebuah pelajaran apabila tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut tidak kalian kerjakan. Kemudian, seorang pekerja tidak akan mendapatkan kenaikan upah apabila tidak menampilkan kinerja yang baik. Dengan demikian, dapat dipastikan antara hak asasi dan kewajiban asasi dalam perwujudannya harus diharmonisasikan atau diseimbangkan oleh setiap orang.
Bagaimana caranya mengharmonisasikan hak dan kewajiban asasi dalam kehidupan sehari-hari? Salah satu cara untuk mengharmonisasikan hak dan kewajiban asasi manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menghindarkan diri kita dari sikap egois atau terlalu mementingkan diri sendiri. Sikap egois dapat menyebabkan seseorang untuk selalu menuntut haknya, sementara kewajibannya sering diabaikan. Seseorang yang mempunyai sikap egois akan menghalalkan segala cara agar haknya dapat terpenuhi, meskipun caranya dapat melanggar hak orang lain.
Upaya untuk mengharmonisasikan hak dan kewajiban asasi manusia merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap penegakan HAM yang dilakukan oleh pemerintah. Sebagai warga negara dari bangsa dan negara yang beradab sudah sepantasnya sikap dan perilaku kita mencerminkan sosok manusia beradab yang selalu menghormati keberadaan orang lain secara kaffah. Sikap tersebut dapat kalian tampilkan dalam perilaku di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara.

Perlindungan dan Penegakan Hukum di Indonesia

A. Pengertian Hukum

Hukum adalah aturan yang bertujuan mengatur pergaulan hidup dibuat oleh lembaga yang berwenang bersifat mengikat dan memaksa dan dikenakan sanksi bagi yang melanggar. Sesuai dengan pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa “Negara Indonesia adalah Negara hukum” Yang dimaksud Negara hukum adalah segala kehidupan keNegaraan selalu berlandaskan pada hukum dan Negara yang menegakkan super masih hukum untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Susu Kurma Makassar


Selama pandemi corona-19 jangan biarkan tubuh kekurangan imun dan cairan. Kekurangan cairan akan membuat tubuh rentan kelelahan. Dan bila kelelahan, maka setiap aktivitas kita tak akan maksimal dijalankan.

Susu Kurma Varian Rasa
Mempunyai banyak khasiat salah satunya menjaga kesehatan mata, melancarkan sistem pencernaan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Silahkan di coba guys

Varian rasa
Jahe, Vanila Latte, Kopi Toraja, matcha, Original, Extra almond, Thai tea, Ovaltine dan strowbery

Harga Rp. 15.000/Botol
Harga murah tapi banyak khasiat

WA : 085277771404
Maps : @Kaos Kareba dan Pusat Oleh-Oleh Makassar

Alamat :
Jl. AP. PETTARANI (Seberang Ramayana Sebelum Taman PU)
Katalog lengkap di IG (Kaos Kareba)

JAM BUKA TOKO : 08.00-20.00

Nilai-nilai Pancasila dalam Kerangka Praktik Penyelenggaraan Kekuasaan Negara

A. Macam-Macam Kekuasaan Negara

Menurut John Locke kekuasaan negara dapat dibagi menjadi tiga kekuasaan yaitu: 
1. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membuat atau membentuk undang-undang 
2.Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang, termasuk kekuasaan untuk mengadili setiap pelanggaran terhadap undang- undang 
3. Kekuasaan federatif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan hubungan luar negeri.

Sedangkan menurut Montesquie kekuasaan negara dibagi : 
1. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membuat atau membentuk undang-undang 
2. Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan undangundang 
3. Kekuasaan yudikatif, yaitu kekuasaan untuk mempertahankan undang-undang, termasuk kekuasaan untuk mengadili setiap pelanggaran terhadap undang-undang. 


B. Konsep Pembagian Kekuasaan di Indonesia

Menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, penerapan pembagian kekuasaan di Indonesia terdiri atas dua bagian, yaitu pembagian kekuasaan secara horizontal dan pembagian kekuasaan secara vertikal. 

1) Pembagian kekuasaan secara horizontal

a. Kekuasaan konstitutif, yaitu kekuasaan untuk mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar. Kekuasaan ini dijalankan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 
b. Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menjalankan undang-undang dan penyelenggraan pemerintahan Negara. Kekuasaan ini dipegang oleh Presiden sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 4 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 
c. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membentuk undang-undang. Kekuasaan ini dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 20 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 . 
d. Kekuasaan yudikatif atau disebut kekuasaan kehakiman yaitu kekuasaan untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan ini dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 24 ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 
e. Kekuasaan eksaminatif atau inspektif, yaitu kekuasaan yang berhubungan dengan penyelenggaraan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara. Kekuasaan ini dijalankan oleh Badan Pemeriksa Keuangan sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 23 E ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 . 

2) Pembagian Kekuasaan Secara Vertikal

Pembagian kekuasaan secara vertikal merupakan pembagian kekuasaan menurut tingkatnya, yaitu pembagian kekuasaan antara beberapa tingkatan pemerintahan. Pembagian kekuasaan secara vertikal muncul sebagai konsekuensi dari diterapkannya asas desentralisasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan asas tersebut, pemerintah pusat menyerahkan wewenang pemerintahan kepada pemerintah daerah otonom (provinsi dan kabupaten/kota) untuk mengurus dan mengatur sendiri urusan pemerintahan di daerahnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, yaitu kewenangan yang berkaitan dengan politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, agama, moneter dan fiskal. Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 18 ayat (5) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 

C. Tugas Kementerian Negara Republik Indonesia

Keberadaan Kementerian Negara Republik Indonesia diatur secara tegas dalam Pasal 17 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan sebagai berikut. 
1. Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara. 
2. Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh presiden. 
3. Setiap menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. 
4. Pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementerian negara diatur dalam undang-undang. 

Keberadaan Kementerian Negara diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Kementerian Negara Republik Indonesia mempunyai tugas menyelenggarakan urusan tertentu dalam pemerintahan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 

a. Penyelenggara perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidangnya, pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya, pengawasan atas pelaksanaan tugas di bidangnya dan pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah. 

b. Perumusan, penetapan, pelaksanaan kebijakan di bidangnya, pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya, pengawasan atas pelaksanaan tugas di bidangnya, pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian di daerah dan pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional. 

c. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidangnya, koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya, pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya dan pengawasan atas pelaksanaan tugas di bidangnya. Pasal 17 ayat (3) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan bahwa setiap menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. 

D. Klasifikasi Kementerian Negara Republik Indonesia

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, Kementerian Negara Republik Indonesia dapat diklasifikasikan berdasarkan urusan pemerintahan yang ditanganinya. 
1. Kementerian yang menangani urusan pemerintahan yang nomenklatur/nama kementeriannya secara tegas disebutkan dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 
2. Kementerian yang menangani urusan pemerintahan yang ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 
3. Kementerian yang menangani urusan pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi, dan sinkronisasi program pemerintah. Selain kementerian yang menangani urusan pemerintahan di atas, ada juga kementerian koordinator yang bertugas melakukan sinkronisasi dan koordinasi urusan kementerian-kementerian yang berada di dalam lingkup tugasnya. 

Kementerian koordinator, terdiri atas: 
a. Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan 
b. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 
c. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat 

E. Lembaga Pemerintah Non-Kementerian

Selain memiliki Kementerian Negara, Republik Indonesia juga memiliki Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) yang dahulu namanya Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Lembaga Pemerintah Non-Kementerian merupakan lembaga negara yang dibentuk untuk membantu presiden dalam melaksanakan tugas pemerintahan tertentu. Lembaga Pemerintah Non-Kementerian berada di bawah presiden dan bertanggung jawab langsung kepada presiden melalui menteri atau pejabat setingkat menteri yang terkait. Keberadaan LPNK diatur oleh Peraturan Presiden Republik Indonesia, yaitu Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Diantaranya adalah; Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Badan Informasi Geospasial (BIG); Badan Intelijen Negara (BIN); Badan Kepegawaian Negara (BKN), di bawah koordinasi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi; dan lain-lain. 

F. Nilai Pancasila

Pancasila yang termuat dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 merupakan landasan bangsa Indonesia yang mengandung tiga tata nilai utama, yaitu dimensi spiritual, dimensi kultural, dan dimensi institusional. Dimensi spiritual mengandung makna bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai landasan keseluruhan nilai dalam falsafah negara. 
Dimensi kultural mengandung makna bahwa Pancasila merupakan landasan falsafah negara, pandangan hidup bernegara, dan sebagai dasar negara. Dimensi institusional mengandung makna bahwa Pancasila harus sebagai landasan utama untuk mencapai cita-cita dan tujuan bernegara, dan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Aktualisasi nilai spiritual dalam Pancasila tergambar dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini berarti bahwa dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan tidak boleh meninggalkan prinsip keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Nilai ini menunjukkan adanya pengakuan bahwa manusia, terutama penyelenggara negara memiliki keterpautan hubungan dengan Sang Penciptanya. Artinya, di dalam menjalankan tugas sebagai penyelenggara negara tidak hanya dituntut patuh terhadap peraturan yang berkaitan dengan tugasnya, tetapi juga harus dilandasi oleh satu pertanggungjawaban kelak kepada Tuhannya di dalam pelaksanaan tugasnya. Hubungan antara manusia dan Tuhan yang tercermin dalam sila pertama sesungguhnya dapat memberikan rambu-rambu agar tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran, terutama ketika seseorang harus melakukan korupsi atau penyelewengan harta negara lainnya dan perilaku negatif lainnya. Nilai spiritual inilah yang tidak ada dalam doktrin good governance yang selama ini menjadi panduan dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Nilai spiritual dalam Pancasila ini sekaligus menjadi nilai yang seharusnya dapat teraktualisasi dalam tata kelola pemerintahan. Dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan, nilai falsafah termanifestasikan di setiap proses perumusan kebijakan dan implementasinya. Nilai Pancasila harus dipandang sebagai satu kesatuan utuh di setiap praktik penyelenggaraan pemerintahan khususnya dalam memberikan pelayanan lepada masyarakat agar tidak terjadi perlakuan yang sewenang dan diskriminatif. Selain itu, nilai spiritualitas menjadi pemandu bagi penyelenggaraan pemerintahan agar tidak melakukan aktivitas-aktivitas di luar kewenangan dan ketentuan yang sudah digariskan.