Saya teringat dengan sangat jelas hari itu. Hari ketika saya melihat air mata Ibu jatuh di hadapan saya. Bukan karena beliau lelah bekerja, melainkan karena kalimat meremehkan yang mampir ke telinga kami:
"Memangnya mereka mau ambil uang dari mana untuk kuliahkan anaknya?
Bapaknya saja tukang becak, Ibunya ikut kerja tani menggarap sawahnya orang
lain."
Kata-kata itu menyengat, jujur saja. Namun, alih-alih membiarkan Ibu
tenggelam dalam kesedihan, saya dekap tubuhnya erat-erat saat itu. Saya
bisikkan sebuah janji yang lahir dari lubuk hati terdalam: "Bu, saya
akan buktikan kalau saya bisa menempuh pendidikan tanpa membebani siapa
pun."
Sejak hari itu, kalimat remeh tersebut tidak lagi menjadi racun,
melainkan bahan bakar. Setiap kali saya lelah menggerogoti, air mata Ibu dan
janji itulah yang membangunkan saya.
Hal kedua yang terbayang adalah kilas balik hari pertama perjuangan ini dimulai. Bayangan ketika saya duduk di atas becak tua milik Bapak, diantar langsung olehnya menuju lokasi tes seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Bagi orang lain, becak mungkin hanya alat transportasi sederhana. Namun
bagi saya, kayuhan pedal Bapak hari itu adalah kayuhan doa terhebat yang
mengantarkan saya menuju gerbang masa depan. Di atas jok becak itulah, mimpi
besar ini dirajut dengan keringat dan harapan seorang ayah.
Pada akhirnya, sebuah gelar akademis hanyalah deretan huruf yang tertulis di belakang nama. Namun, bagi saya, gelar ini adalah sebuah prasasti, sebuah bukti otentik bahwa kehormatan tidak dibeli dengan kemewahan, melainkan ditebus dengan keteguhan hati.
Dulu, dunia mungkin melihat keluarga kami dengan sebelah mata. Mereka melihat becak Bapak yang usang, atau tangan Ibu yang kasar karena tanah sawah orang lain. Mereka mengukur masa depan saya dari apa yang orang tua saya miliki, bukan dari apa yang orang tua saya perjuangkan.
Hari ini, semua keraguan itu runtuh. Ketukan palu
sidang hari itu bukan tanda berakhirnya sebuah ujian, melainkan ketukan yang
meresmikan bahwa air mata Ibu
yang dulu jatuh karena terluka, kini berubah menjadi air mata haru yang penuh
syukur. Keringat Bapak yang
bercucuran di atas pedal becak, kini telah menjelma menjadi tangga tak terlihat
yang mengantarkan anaknya berdiri di mimbar akademik.
Dan hari ini, di tengah riuh rendah
gedung wisuda yang megah ini, saya berdiri di antara ratusan pasang mata. Saya
melihat senyum bangga dari para orang tua hebat yang hadir mendampingi
putra-putri mereka. Kursi di atas gedung sana mungkin terlihat kosong untuk dua
orang. Bapak tidak bisa ikut menempuh perjalanan jauh karena raganya yang kini
digerogoti sakit, dan Ibu dengan kesetiaan yang luar biasa memilih tetap
tinggal di rumah, menjaga separuh jiwanya agar tidak sendirian.
Namun, di dalam hati saya, ruangan ini
tidak pernah terasa sepi. Saya tahu, fisik mereka mungkin berjarak ribuan
kilometer dari gedung ini. Bapak mungkin sedang terbaring di ranjang
sederhananya, dan Ibu mungkin sedang duduk di sampingnya. Tapi, saya teramat
yakin, jubah wisuda yang saya kenakan hari ini ditenun oleh untaian doa-doa
malam mereka yang menembus langit. Kebanggaan dan ketulusan cinta mereka
mengalir deras, memenuhi setiap sudut ruangan ini, sama megahnya bahkan mungkin
lebih megah dari mereka yang hadir secara nyata.
Ketika tali toga ini dipindahkan, air
mata saya jatuh. Bukan karena sedih karena sendiri, melainkan karena rasa
syukur yang membuncah. Saya berhasil, Pak. Saya berhasil, Bu. Anak tukang becak
dan buruh tani ini telah menyelesaikan janjinya. Ijazah dan toga ini tidak akan
membiarkan kalian merasa kecil lagi. Hari ini, dari atas panggung wisuda ini,
saya sampaikan pada dunia: Saya adalah anak dari dua manusia hebat, yang
meski tak hadir di kursi undangan, namanya telah harum di hadapan Tuhan atas
seluruh pengorbanannya.
Setiap kali saya memandang toga atau
ijazah ini kelak, saya tidak akan hanya melihat nama saya di sana. Saya akan
melihat bayangan wajah Bapak yang legam terbakar matahari, dan wajah Ibu yang
teduh penuh doa. Gelar ini adalah milik mereka.
Yogyakarta,
24 Juni 2026
Sulpadli, M.Pd., Gr.

.jpeg)








0 komentar:
Posting Komentar