Blog Guru PPKn

Nilai-nilai Pancasila dalam Kerangka Praktik Penyelenggaraan Kekuasaan Negara.

Blog Guru PPKn

Upaya Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Blog Guru PPKn

Perlindungan dan Penegakan Hukum di Indonesia.

Tampilkan postingan dengan label Produk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Produk. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Februari 2022

AKSI NYATA DAN DISEMINASI MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF


A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah sebuah tuntunan dalam hidup dan tumbuh kembang anak. Setiap anak memiliki kekuatan dirinya sendiri, memiliki pengalaman dan kekayaan. Pendidikan haruslah membimbing dan menguatkan apa yang ada di dalam diri setiap anak agar dapat memperbaiki tingkah lakunya, cara hidupnya dna pertumbuhannya. Dalam proses menuntut, anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang merdeka.

Ki Hajar Dewantara (KHD) mengingatkan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Guru sebagai pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Dalam proses menuntun tersebut, anak  diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang unik, akan tetapi guru sebagai pamong harus memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Guru diharapkan memiliki nilai-nilai positif yang dibutuhkan untuk membentuk karakter pelajar Pancasila dengan memberi contoh dan melakukan pembiasaan yang konsisten di sekolah. Pengembangan budaya positif dapat menumbuhkan motivasi instrinsik dalam diri anak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta akhlak mulia. Sangat penting bagi guru untuk dapat  mengembangkan budaya positif di sekolah  agar  dapat menumbuhkan motivasi intrinsik  dalam diri murid-muridnya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab  dan  berbudi pekerti luhur.

Perlu kita ketahui bersama bahwa tujuan membangun  budaya positif di sekolah adalah menumbuhkan karakter anak. Kita semua percaya bahwa tujuan penting sekolah adalah pembentukan karakter. Guru perlu membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat. 

Dalam menerapkan budaya positif, tentunya tidak terlepas dari bagaimana kemampuan warga sekolah mengenali, merefleksikan atau pun mengevaluasi diri masing-masing atas segala kejadian atau pengalaman yang telah berlalu. Mengenali diri, merefleksi atau mengevaluasi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Ini adalah suatu yang harus dilakukan dengan sadar dan terencana. Tidak spontan. Untuk itu perlu diberi ruang dan peluang. Di sana orang merenungkan apa yang sudah dilakukannya. Hal ini harus dilakukan agar kita mendapat kekuatan baru untuk melangkah ke depan dan menciptakan budaya positif di sekolah yang dapat menumbuhkan karakter positif  yang bukan hanya mendorong murid untuk sukses secara akademik tetapi juga untuk menanam moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat. Oleh karena itu, betapa pentingnya menumbuhkan budaya positif di sekolah dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri).

 

B.     Tujuan


       Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan pelaksanaan aksi nyata, yaitu:

  1. Terwujudnya visi sekolah melalui penerapan budaya positif
  2. Menumbuhkan karakter yang kuat melalui pembiasaan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri.
  3. Menguatkan karakter positif melalui pembiasaan-pembiasaan positif
  4. Menumbuhkembangkan karakter profil pelajar Pancasila yaitu pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
  5. Menguatkan peran sebagai guru penggerak melalui penerapan dalam menanamkan disiplin positif pada peserta didik

C.    Deskripsi Aksi Nyata
1. Perencanaan
    Pada tahap perencanaan, hal-hal yang dilakukan, yaitu:
    a. Menyusun rancangan aksi nyata
    b. Membuat instrumen
    c. Mendiskusikan rencana dengan rekan sejawat
    d. Koordinasi rencana aksi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
    e. Koordinasi rencana aksi dengan pimpinan (Kepala Sekolah)
  f. Melakukan revisi terhadap rancangan aksi nyata sebagai tindak lanjut dari hasil konsultasi dengan rekan sejawat, Waka Kurikulum dan Kepala Sekolah

    2. Pelaksanaan

        a. Melaksanakan budaya positif dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan positif di kelas maupun di lingkungan sekolah tentunya dengan penerapan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri.
        b. Melakukan diseminasi konsep dan implementasi budaya positif dengan rekan sejawat dan Kepala Sekolah.
        c. Melakukan kegiatan pembentukan dan deklarasi keyakinan kelas
        d. Melakukan aksi layanan segitiga restitusi
        e. Penerapan disiplin positif.

3. Evaluasi
          Hal-hal yang dilakukan pada tahap evaluasi, yaitu:
    a. Pengolahan data hasil aksi nyata
    b. Melakukan pembahasan hasil aksi nyata
    c. Pengambilan kesimpulan
    d. Penyusunan rencana tindak lanjut
    e. Membuat video dan artikel serta laporan aksi nyata 

D.    Hasil Aksi Nyata (Tolok Ukur Keberhasilan)
Berdasarkan hasi aksi nyata menumbuhkan budaya positif dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri), maka diperoleh hasil aksi nyata (tolok ukur keberhasilan) sebagai berikut:
1. Pembiasaan-pembiasaan positif di kelas maupun di lingkungan sekolah tentunya dengan penerapan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri) semakin tumbuh dan berjalan dengan baik.
2. Terciptanya sikap saling memahami kelebihan dan kekurangan diri dan saling mengenali pola kebiasaan yang sering dijalani di kelas dan di sekolah.
3. Terbentuknya keyakinan kelas yang dideklarasikan secara bersama sebagai landasan utama dalam menyikapi segala permasalahan yang muncul di kelas maupun di sekolah.
4. Dukungan dari Kepala Sekolah, rekan guru, dan peserta didik menjadi kekuatan dalam pelaksanaan kegiatan.
5. Komitmen bersama antara guru dan peserta didik dalam menjalankan keyakinan kelas dalam pembelajaran secara konsisten
6. Meningkatnya keaktifan dan daya nalar kritis peserta didik dalam kegiatan pembelajaran

E.     Tantangan

Dalam melaksanakan kegiatan aksi nyata dan diseminasi budaya positif, tentunya terdapat berbagai hal yang menjadi tantangan tersendiri, yaitu:
1. Pelaksanaan kegiatan yang berjalan agak lama karena pandemi Covid-19.
2. Belum semua rekan guru menerapkan budaya positif di kelas, seperti keyakinan kelas dan layanan segiitiga restitusi.
3. Komunikasi yang kurang efektif oleh adanya perbedaan pandangan/konsep dalam mendidik dan menciptakan budaya positif.

F.     Refleksi
Dalam melaksanakan aksi nyata menumbuhkan budaya positif dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri), tentunya terdapat berbagai pelajaran yang bisa dipetik sebagai pengalaman berharga, yaitu:
1. Kegiatan aksi nyata dan diseminasi yang baik harus terencana dengan baik
2. Pentingnya arti menghargai dan mengapresiasi segala yang terdapat pada diri peserta didik
3. Dalam pendidikan, warga sekolah harus membiasakan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri demi tercapainya pendidikan yang lebih baik.
4. Komunikasi yang baik menjadi salah satu faktor utama dalam menjalin hubungan yang harmonis di antara warga sekolah.
5. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan.

G.    Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

     Dalam pelaksanaan aksi nyata, tentunya masih ditemukan hal-hal yang perlu ditingkatkan sehingga perlu perbaikan di masa mendatang. Rencana perbaikan yang akan dilakukan, yaitu:
1. Menyusun instrumen umpan balik yang akan diberikan pada peserta didik dan rekan guru terkait aksi nyata yang dilakukan.
2. Melakukan diskusi dengan peserta didik dan rekan guru terkait ide atau saran yang diperlukan demi peningkatan aksi nyata
3. Membangun komunikasi yang efektif dalam menyatukan konsep pembiasaan budaya positif di sekolah.

H.    Dokumentasi Kegiatan
1. Membuat Rancangan Aksi Nyata dan Diseminasi Konsep dan Implementasi Budaya Positif Melalui Koordinasi dengan Pimpinan/Kepala Sekolah.

2. Pembiasaan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri peserta (menggali kelebihan dan kelemahan pada diri).



3. Membangun dan mendeklarasikan keyakinan kelas





     4. Membangun konsep pentingnya arti menghargai





  5. Diseminasi konsep dan implementasi budaya positif

           

             6. Link Video Youtube

a.       1.4.Aksi Nyata – Budaya Positif

https://youtu.be/2lU9QHSU79A

b.      Diseminasi Konsep dan Implemntasi Budaya Positif di Sekolah

https://youtu.be/lNJ-wRFA7dQ


Terima Kasih

Salam Guru Penggerak
Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan












Kamis, 30 Desember 2021

AKSI NYATA MODUL 1.1 PENERAPAN PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA DI KELAS DAN DI SEKOLAH

A.    Latar Belakang

Perkembangan dunia pendidikan yang sangat pesat tentunya membuka ruang yang seluas-luasnya bagi guru sebagai agen transformasi pendidikan untuk terus belajar mengasah potensi yang dimiliki. Dalam meningkatkan kompetensi yang dimiliki, guru di Indonesia selayaknya harus berpijak pada pemikiran fiosofis Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara untuk diterapkan pada dunia pendidikan saat ini. Ki Hadjar Dewantara menegaskan tentang tujuan dari pendidikan, yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara juga mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, pendidik dengan segenap hati dan jiwa menuntun agar anak tidak kehilangan arah. Memberikan ruang bagi anak agar bisa bebas belajar untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Seperti dalam penerapan filosofi pendidikan saat ini tentang Merdeka Belajar.

Semangat Merdeka Belajar yang sedang dicanangkan ini juga memperkuat tujuan pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, dimana Pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Kedua semangat ini yang kemudian memunculkan sebuah pedoman, sebuah penunjuk arah yang konsisten, dalam pendidikan di Indonesia. Pedoman tersebut adalah Profil Pelajar Pancasila (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020).

Profil Pelajar Pancasila ini dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan Indonesia. Tidak hanya untuk kebijakan pendidikan di tingkat nasional saja, akan tetapi diharapkan juga menjadi pegangan untuk para pendidik dalam membangun karakter anak di ruang belajar dengan berbagai situasi dan kondisi. Pelajar Pancasila dalam hal ini adalah pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini adalah: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif.

Menuntun segala kekuatan kodrat bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu di ruang-ruang pembelajaran dimana guru dan peserta didik berinteraksi secara langsung. Peran guru menciptakan suasana merdeka belajar yang nyaman dan membuat murid Bahagia serta bersemangat untuk mengikuti pembelajaran dari awal sampai akhir. Selain itu guru juga harus mampu menggali dan mengembangkan potensi murid serta mengakomodasi karakteristik massing-masing peserta didik.

Usaha yang bisa kita lakukan sebagai guru adalah mampu mendesain sebuah pembelajaran menarik dan menyenangkan yang mampu menciptakan kondisi belajar yang lebih aktif dalam bernalar dan berpikir kritis. Dalam hal ini guru harus memperhatikan salah satu dasar pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara yaitu azas trikon yang meliputi:


a.  Kontinyu berarti pendidikan haruslah berkembang secara terus-menerus dan berkesinambungan.
b. Konvergen berarti pendidikan juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tetapi tidak meninggalkan akar budaya asalnya.
c. Konsentris berarti perkembangan pendidikan haruslah menghargai keunikan, keragaman dan memerdekakan peserta didik yang berdasarkan kepribadian kita sendiri

Oleh karena itu, hal-hal yang melatarbelakangi pelaksanaan aksi nyata ini sebagai penerapan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam hal penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan sistem pembelajaran Blended Learning, yaitu proses pembelajaran yang dilakukan masih didominasi oleh guru, pentingnya pemikiran KHD tentang pendidikan yang memerdekakan, tantangan global tentang perlunya perubahan paradigma pembelajaran, perubahan strategi pembelajaran, dan penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

B.     Tujuan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan pelaksanaan aksi nyata ini sebagai penerapan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam hal penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan sistem pembelajaran Blended Learning, yaitu:

1. Proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik

Meskipun dalam kondisi pembelajaran yang serta terbatas, tapi diharapkan aksi nyata ini dapat mengubah proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered learning), sehingga peserta didik mmpu bertanggung jawab lebih untuk memantau kemajuan belajar mereka sendiri. Selain itu, Peserta didik lebih terlibat jauh dalam berpikir tingkat yang lebih tinggi (high order thinking), semakin terbiasa berdiskusi dengan kelompoknya mengeksplorasi secara mandiri terhadap suatu permasalahan, memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman mendalam yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

2. Terciptanya pembelajaran yang merdeka.

Pembelajaran yang merdeka dalam hal ini adalah terciptanya suasana-suasana yang membahagiakan dalam pembelajaran. Karena setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Guru harus mampu menjadi teman belajar yang menyenangkan agar proses belajar anak benar-benar atas kesadaraannya sendiri dan merdeka atas pilihannya. Diperlukan kesabaran dalam memfasilitasi, agar anak mampu untuk mengenali potensinya. Karena bakat anak bisa tumbuh ketika anak sudah memiliki minat dan mau berlatih untuk mengasah keterampilannya. Dalam mengawali proses belajar, pendidik juga perlu memiliki kemampuan mendengar yang baik. Tidak hanya sekadar mentransfer pengetahuan dan mendikte anak-anak atas kehendak pendidik.

Pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dan proses pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk mendengarkan pertanyaan atau pandangan peserta didik. Aktivitas belajar lebih menekankan pada keterampilan berpikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan menyusun hipotesis.

           3.  Perubahan paradigma pembelajaran

Perkembangan IPTEK dan dinamika masyarakat Indonesia dan dunia saat ini sudah mengalami kemajuan dan perubahan yang relatif sangat cepat, terlebih dengan perkembangan dan kemajuan  teknologi informasi dan komunikasi. Guru sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah, sekaligus menjadi agen pembaharuan dan pembangunan sumberdaya manusia,  maka sudah sepantasnya melakukan perubahan positif dalam proses pembelajaran, baik secara individual dan kolektif, agar tidak tertinggal jauh dari perkembangan dan dinamika masyarakat. Perubahan  dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk mengikuti dan menyeimbangkan kemajuan IPTEK, khususnya bidang teknologi informasi dan komunikasi.

     4.  Perubahan strategi pembelajaran

Proses pembelajaran yang diterapkan guru selama ini menggunakan pola 'guru sebagai sumber utama' dan model pembelajaran kurang menarik sehingga yang terjadi peserta didik menjadi pasif, jenuh, dan pembelajaran tidak bermakna. Maka diharapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam kondisi pembelajaran Blended Learning mampu menciptkan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.

5.  Peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Seperti diketahui bahwa model pembelajaran problem based learning dalam tahapannya mengarahkan peserta didik pada suatu pemecahan masalah pembelajaran dengan caranya sendiri. Peserta didik secara mandiri mencari dan memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapinya sehingga peserta didik akan terbiasa menggunakan nalarnya untuk berpikir kritis dalam pemecahan masalah.

C.    Deskripsi Aksi Nyata
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, hal-hal yang dilakukan, yaitu:
a. Menyusun rencana pembelajaran
b. Membuat instrumen
c. Mendiskusikan rencana dengan guru serumpun
d. Koordinasi rencana aksi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
e. Koordinasi rencana aksi dengan pimpinan (Kepala Sekolah)

2. Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan disesuikan dengan langkah-langkah model pembelajaran problem based learning (PBL)
a. Orientasi peserta didik pada masalah
-  Peserta didik ditunjukkan sebuah video ilustrasi berisi masalah yang terdapat dalam sebuah kasus.
- Peserta didik diminta untuk mengamati dan memahami masalah tersebut secara individu, serta mengajukan hal-hal yang belum dipahami terkait masalah yang disajikan.
b. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
- Peserta didik diminta untuk membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 5-6 peserta didik.
- Guru menginstruksikan pada tiap kelompok untuk membuka folder diskusi kelomopok pada LMS Schoology.
- Peserta didik diminta mengunduh LKPD pada LMS Schoology, yang berisikan masalah dan tugas memuat langkah-langkah pemecahan serta meminta peserta didik berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah.
- Peserta didik diminta bekerja sama dalam kelompok untuk memikirkan secara cermat strategi pemecahan yang berguna untuk pemecahan masalah.
c. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
- Peserta didik diminta untuk bereksperimen dengan media yang disediakan untuk menyelesaikan masalah.
- Guru memperhatikan dan mendorong peserta didik agar secara aktif terlibat dalam diskusi kelompok serta saling membantu dalam menyelesaikan masalah tersebut, mengarahkan bila ada kelompok perlu bantuan.
d. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
- Peserta didik diminta untuk menyiapkan hasil diskusi kelompok secara rapi, rinci, dan sistematis.
- Setiap kelompok diminta mengupload hasil diskusi pada folder yang tersedia di LMS Schoology.
e. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
- Guru meminta peserta didik dari salah satu kelompok untuk mempresentasikan (mengkomunikasikan) hasil diskusinya di depan kelas secara runtut, sistematis, santun, dan hemat waktu.
- Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik dari kelompok lain untuk memberikan tanggapan terhadap hasil diskusi kelompok penyaji dengan sopan.
- Guru melibatkan peserta didik mengevaluasi jawaban kelompok penyaji serta masukan dari peserta didik yang lain.
- Melalui tanya jawab, peserta didik diarahkan pada kesimpulan mengenai permasalahan tersebut.

      3. Evaluasi
Hal-hal yang dilakukan pada tahap evaluasi, yaitu:
a. Pengolahan data hasil pengamatan.
b. Melakukan pembahasan hasil pengolahan data
c. Pengambilan kesimpulan
d. Penyusunan rencana tindak lanjut
e. Membuat video aksi nyata 

D.    Hasil Aksi Nyata

Terdapat beberapa hal yang menjadi tujuan dalam pelaksanaan aksi nyata yang telah dijabarkan di atas. Oleh karena itu, berdasarkan aksi nyata yang telah dilaksanakan, diperoleh suatu hasi sebagai berikut:
1. Teacher Centered menjadi Student Centered (pembelajaran yang berpusat pada peserta didik)
2. Terciptanya pembelajaran yang merdeka
3. Meningkatnya kemampuan berpikir peserta didik
4. Testimoni yang positif dari rekan guru dan peserta didik

E.     Refleksi Aksi Nyata

Berdasarkan hasi aksi nyata sebagai penerapan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam hal penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan sistem pembelajaran Blended Learning, diperoleh berbagai pembelajaran penting sebagai refleksi pelaksanaan aksi nyata.
1. Pembelajaran yang baik harus terencana dengan baik
2. Pendidikan harus menghargai keberagaman dan memerdekakan peserta didik
3. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutukan.

F.     Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

        Dalam pelaksanaan aksi nyata, tentunya masih ditemukan hal-hal yang perlu ditingkatkan sehingga perlu perbaikan di masa mendatang. Rencana perbaikan yang akan dilakukan, yaitu:
1. Menyusun instrumen umpan balik yang akan diberikan pada peserta didik dan rekan guru terkait aksi nyata yang dilakukan.
2. Melakukan diskusi dengan peserta didik dan rekan guru terkait ide atau saran yang diperlukan demi peningkatan aksi nyata yang dilakukan.

G.    Dokumentasi Kegiatan
1. Koordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum terkait rencana aksi nyata.

       2. Koordinasi dengan pimpinan/Kepala Sekolah terkait rencana aksi nyata
        3. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) dengan sistem pembelajaran blended learning.




4. Testimoni positif dari rekan guru




5. Testimoni positif dari peserta didik



6. Video Dokumentasi
Aksi Nyata 1.1 Penerapan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara di Kelas dan di Sekolah



Terima Kasih
Salam Guru Penggerak
"Guru Bergerak Indonesia Maju"

Sabtu, 04 Juli 2020

Susu Kurma Makassar


Selama pandemi corona-19 jangan biarkan tubuh kekurangan imun dan cairan. Kekurangan cairan akan membuat tubuh rentan kelelahan. Dan bila kelelahan, maka setiap aktivitas kita tak akan maksimal dijalankan.

Susu Kurma Varian Rasa
Mempunyai banyak khasiat salah satunya menjaga kesehatan mata, melancarkan sistem pencernaan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Silahkan di coba guys

Varian rasa
Jahe, Vanila Latte, Kopi Toraja, matcha, Original, Extra almond, Thai tea, Ovaltine dan strowbery

Harga Rp. 15.000/Botol
Harga murah tapi banyak khasiat

WA : 085277771404
Maps : @Kaos Kareba dan Pusat Oleh-Oleh Makassar

Alamat :
Jl. AP. PETTARANI (Seberang Ramayana Sebelum Taman PU)
Katalog lengkap di IG (Kaos Kareba)

JAM BUKA TOKO : 08.00-20.00