Blog Guru PPKn

Nilai-nilai Pancasila dalam Kerangka Praktik Penyelenggaraan Kekuasaan Negara.

Blog Guru PPKn

Upaya Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Blog Guru PPKn

Perlindungan dan Penegakan Hukum di Indonesia.

Rabu, 24 Juni 2026

Kayuhan Pedal yang Menembus Langit



Ruangan itu seketika hening tepat sebelum ketua penguji menutup sidang tesis saya. Di detik-detik krusial itu, anehnya, pikiran saya tidak melayang pada nilai atau gelar baru yang akan disematkan. Pikiran saya justru melesat mundur, memutar kembali dua memori yang menjadi bahan bakar paling abadi dalam hidup saya.

Saya teringat dengan sangat jelas hari itu. Hari ketika saya melihat air mata Ibu jatuh di hadapan saya. Bukan karena beliau lelah bekerja, melainkan karena kalimat meremehkan yang mampir ke telinga kami:

"Memangnya mereka mau ambil uang dari mana untuk kuliahkan anaknya? Bapaknya saja tukang becak, Ibunya ikut kerja tani menggarap sawahnya orang lain."

Kata-kata itu menyengat, jujur saja. Namun, alih-alih membiarkan Ibu tenggelam dalam kesedihan, saya dekap tubuhnya erat-erat saat itu. Saya bisikkan sebuah janji yang lahir dari lubuk hati terdalam: "Bu, saya akan buktikan kalau saya bisa menempuh pendidikan tanpa membebani siapa pun."

Sejak hari itu, kalimat remeh tersebut tidak lagi menjadi racun, melainkan bahan bakar. Setiap kali saya lelah menggerogoti, air mata Ibu dan janji itulah yang membangunkan saya.

Hal kedua yang terbayang adalah kilas balik hari pertama perjuangan ini dimulai. Bayangan ketika saya duduk di atas becak tua milik Bapak, diantar langsung olehnya menuju lokasi tes seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Bagi orang lain, becak mungkin hanya alat transportasi sederhana. Namun bagi saya, kayuhan pedal Bapak hari itu adalah kayuhan doa terhebat yang mengantarkan saya menuju gerbang masa depan. Di atas jok becak itulah, mimpi besar ini dirajut dengan keringat dan harapan seorang ayah.

Pada akhirnya, sebuah gelar akademis hanyalah deretan huruf yang tertulis di belakang nama. Namun, bagi saya, gelar ini adalah sebuah prasasti, sebuah bukti otentik bahwa kehormatan tidak dibeli dengan kemewahan, melainkan ditebus dengan keteguhan hati.

Dulu, dunia mungkin melihat keluarga kami dengan sebelah mata. Mereka melihat becak Bapak yang usang, atau tangan Ibu yang kasar karena tanah sawah orang lain. Mereka mengukur masa depan saya dari apa yang orang tua saya miliki, bukan dari apa yang orang tua saya perjuangkan.

Hari ini, semua keraguan itu runtuh. Ketukan palu sidang hari itu bukan tanda berakhirnya sebuah ujian, melainkan ketukan yang meresmikan bahwa air mata Ibu yang dulu jatuh karena terluka, kini berubah menjadi air mata haru yang penuh syukur. Keringat Bapak yang bercucuran di atas pedal becak, kini telah menjelma menjadi tangga tak terlihat yang mengantarkan anaknya berdiri di mimbar akademik.

Dan hari ini, di tengah riuh rendah gedung wisuda yang megah ini, saya berdiri di antara ratusan pasang mata. Saya melihat senyum bangga dari para orang tua hebat yang hadir mendampingi putra-putri mereka. Kursi di atas gedung sana mungkin terlihat kosong untuk dua orang. Bapak tidak bisa ikut menempuh perjalanan jauh karena raganya yang kini digerogoti sakit, dan Ibu dengan kesetiaan yang luar biasa memilih tetap tinggal di rumah, menjaga separuh jiwanya agar tidak sendirian.

Namun, di dalam hati saya, ruangan ini tidak pernah terasa sepi. Saya tahu, fisik mereka mungkin berjarak ribuan kilometer dari gedung ini. Bapak mungkin sedang terbaring di ranjang sederhananya, dan Ibu mungkin sedang duduk di sampingnya. Tapi, saya teramat yakin, jubah wisuda yang saya kenakan hari ini ditenun oleh untaian doa-doa malam mereka yang menembus langit. Kebanggaan dan ketulusan cinta mereka mengalir deras, memenuhi setiap sudut ruangan ini, sama megahnya bahkan mungkin lebih megah dari mereka yang hadir secara nyata.

Ketika tali toga ini dipindahkan, air mata saya jatuh. Bukan karena sedih karena sendiri, melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Saya berhasil, Pak. Saya berhasil, Bu. Anak tukang becak dan buruh tani ini telah menyelesaikan janjinya. Ijazah dan toga ini tidak akan membiarkan kalian merasa kecil lagi. Hari ini, dari atas panggung wisuda ini, saya sampaikan pada dunia: Saya adalah anak dari dua manusia hebat, yang meski tak hadir di kursi undangan, namanya telah harum di hadapan Tuhan atas seluruh pengorbanannya.

Setiap kali saya memandang toga atau ijazah ini kelak, saya tidak akan hanya melihat nama saya di sana. Saya akan melihat bayangan wajah Bapak yang legam terbakar matahari, dan wajah Ibu yang teduh penuh doa. Gelar ini adalah milik mereka.

                                                                                              Yogyakarta, 24 Juni 2026

                                                                                                Sulpadli, M.Pd., Gr. 

Jumat, 27 Februari 2026

Ketika Hujan Berhenti di Sini

Ketika Hujan Berhenti di Sini
Untuk segala rasa yang terpaksa ikhlas

Aku belajar bahwa ikhlas tidak pernah dimulai dengan senyum.

Ikhlas dimulai dengan rahang yang mengeras menahan getir, dengan dada yang sesak namun tetap berkata "tak apa," dengan tangan yang gemetar tapi tetap merelakan sesuatu pergi.

Dan hari ini, setelah sekian lama, aku akhirnya mengerti.

Aku pernah menyimpanmu di sudut hati yang paling hangat. Tempat yang kujaga khusus, yang kubersihkan dari debu-debu keraguan. Aku menanam harapan di sana, menyiramnya setiap hari dengan doa-doa kecil, percaya bahwa suatu saat akan tumbuh bunga yang mekar sempurna.

Tapi bunga tak pernah mekar.

Yang tumbuh justru duri. Dan aku tetap memeluknya, berdarah tapi berkata, "tidak apa, mungkin aku kurang sabar."

Kekecewaan pertama datang seperti bocor kecil di atap. Masih bisa kutampung dengan ember, masih bisa kusapu bila tumpah. Tapi kau terus datang dengan kekecewaan-kekecewaan lain, dan bocor itu semakin lebar, sampai akhirnya atap itu rubuh, menimpa seluruh rumah yang kumiliki.

Aku marah. Tentu saja aku marah.

Aku marah pada keadaan yang mempertemukan, pada waktu yang membiarkan aku terlalu dalam, dan paling marah pada diriku sendiri, yang tahu dari awal tapi memilih tetap di sini.

Tapi kau tahu? Kemarahan itu melelahkan.

Suatu malam, di antara isak yang tak bersuara, aku duduk di lantai kamar. Hujan di luar, dan aku membiarkan jendela terbuka. Angin dingin membawa masuk butir-butir air, membasahi wajah yang sudah basah.

Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya, aku tak lagi bertanya, "Kenapa ini terjadi padaku?"

Aku hanya bertanya, "Mau apa Engkau dengan sakit ini?"

Ikhlas, rupanya, bukan tentang melupakan. Bukan pula tentang memaafkan sepenuhnya.

Ikhlas adalah ketika kau bisa mengingat seseorang tanpa perih yang menusuk. Ketika namanya tak lagi membuat dadamu sesak. Ketika kau bisa melewati tempat-tempat kenangan tanpa harus menoleh dan menangis.

Ikhlas adalah ketika kau menerima bahwa ada bab yang harus ditutup, meskipun kau belum siap berhenti membaca.

Aku ikhlas pada semua kekecewaan yang kau beri.

Bukan karena aku rela kehilangan, tapi karena aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah mengambil tanpa alasan. Pasti ada yang salah dari caraku mencintai, atau mungkin ada yang lebih indah yang sedang disiapkan, yang takkan bisa kujangkau bila tanganku masih sibuk memegangmu.

Aku ikhlas pada janji-janji yang kau ingkari.

Pada waktu-waktu yang kau buang sia-sia.

Pada semua tanya yang tak pernah kau jawab.

Pada kepergianmu yang tak kau beri tanda.

Aku ikhlas.

Dan rasanya... seperti menghembuskan napas panjang yang sejak dulu kutahan. Seperti melepas jangkar yang selama ini membuat perahu tak bisa berlayar.

Mungkin kau tak pernah tahu, dan tak akan pernah tahu bahwa di balik senyum yang sekarang kau lihat, ada proses yang sangat panjang. Ada malam-malam tanpa tidur, ada doa yang tak terucap, ada perang batin yang takkan pernah cukup diceritakan dengan kata-kata.

Tapi tak apa.

Karena ikhlas mengajarkan satu hal: bahwa kekecewaan bukanlah akhir dari segalanya. Ia hanyalah lorong gelap yang harus kulalui untuk sampai ke tempat yang lebih terang.

Dan hari ini, aku sudah hampir sampai di ujung lorong itu. Aku bisa melihat cahaya. Samar, tapi nyata.

Terima kasih untuk semua kecewa yang kau titipkan.

Semoga jejeran kekecewaan itu memberikan pelajaran yang tak akan pernah cukup kusebut satu per satu.

Karena pada akhirnya, aku berutang budi pada setiap malam yang terasa panjang tanpa akhir. Pada setiap "mengapa" yang tak berjawab. Merekalah yang diam-diam mengajariku tentang kekuatan yang tak pernah kusadari ada di dalam diri.


Kamis, 12 Februari 2026

MENCARI WAJAH DI BALIK KABUT MERAPI

Di balik jendela kelas pagi ini, dalam riuh rendah rangkaian kegiatan 7KAIH, pandanganku tertambat pada gunung Merapi. Ia sedang malu-malu hari ini, puncaknya raib ditelan arak-arakan awan, seolah menyembunyikan sebuah rahasia besar. Seperti itulah pendidikan kita, seringkali puncaknya terlihat jelas dan megah dalam visi, namun dasarnya masih tertutup kabut realita yang tebal.

Pikiranku pun berkelana. Di dunia maya, kita seringkali terhipnotis oleh gemerlap sistem pendidikan bangsa lain. Kita melihat anak-anak di sana sekolah tanpa beban, tanpa PR, dengan jam terbang yang singkat namun hasil yang melesat. Seketika, jemari kita lincah mengetik di kolom komentar: "Coba Indonesia begini,".

Kita begitu vokal menuntut "Hasil" yang sama, namun seringkali menutup mata pada "Harga" yang mereka bayar. Kita lupa bahwa di balik kemudahan itu, ada disiplin kultural yang mendarah daging, ada kesejahteraan guru yang sudah tuntas, dan ada dukungan sistemik yang telah matang

Membandingkan Indonesia dengan mereka bukanlah perbandingan apel ke apel. Ini adalah perbandingan antara Apel dan Durian.
Apel itu mulus, mudah dikupas, dan seragam.
Durian? Ia berduri tajam, kulitnya keras, dan baunya menyengat bagi mereka yang tak paham. Namun, di balik kerumitan cara membukanya, ada rasa yang begitu kaya dan autentik yang tidak akan pernah dimiliki oleh sebutir apel manapun.

Pintu Gerbang yang Berbeda: Kualitas Input
Di negara lain, menjadi Guru adalah pencapaian kasta tertinggi, setara dengan Dokter. Mereka adalah putra-putri terbaik bangsa yang memilih jalan pengabdian. Namun di sini? Kita harus jujur pada diri sendiri. Fakultas keguruan sering kali menjadi "pilihan kedua" atau pelarian bagi mereka yang gagal di jurusan favorit. Bagaimana mungkin kita mengharapkan output emas jika sejak di pintu gerbang kampus, profesi guru belum menjadi magnet bagi talenta-talenta terbaik nasional?

Meja Makan dan Budaya Literasi
Masalah di Indonesia tidak hanya berhenti di gerbang sekolah, ia bermula dari meja makan di rumah. Di negara-negara maju, buku adalah bumbu percakapan keluarga. Di Indonesia, kita adalah bangsa yang hangat dalam lisan (ngobrol) dan visual (nonton), namun dingin dalam literasi. Menuntut penghapusan PR tanpa kesiapan budaya belajar mandiri adalah sebuah perjudian besar. Tanpa buku di tangan, celah waktu luang itu kemungkinan besar bukan diisi dengan riset mandiri, melainkan dengan Push Rank game online hingga subuh.

Beban di Pundak yang Sendirian
Lalu, mari kita lihat ke dalam kelas. Di negara lain, satu guru berdiri di depan 15–20 murid dengan asisten di sampingnya. Di Indonesia? Seorang guru harus menjadi "dirigen" tunggal bagi 30 hingga 40 kepala. Menuntut personalized learning ala Finlandia di kelas yang "gemuk" dan penuh sesak adalah sebuah ketidakadilan pikir. Medannya berbeda, rasionya timpang, dan bebannya jauh dari kata sepadan.

Fondasi Curiga vs Fondasi Percaya
Duri yang paling menusuk adalah soal Trust (Kepercayaan). Sistem mereka dibangun di atas rasa percaya: Pemerintah percaya guru bekerja, guru percaya murid belajar. Hasilnya? Administrasi yang ramping.
Sebaliknya, sistem kita seolah dibangun di atas pondasi Kecurigaan. Pemerintah curiga guru tidak mengajar jika tidak menyetor tumpukan laporan tebal. Padahal, kemerdekaan belajar sejati tidak akan pernah lahir dari rahim birokrasi yang penuh rasa curiga.

Senjata di Tengah Keterbatasan
Kehebatan guru di luar sana bukan hanya karena gawai yang canggih, tapi pedagogi yang matang. Di tengah kondisi kelas kita yang "obesitas", kita butuh senjata yang praktis dan tajam. Direct Instruction atau yang disebut instruksi langsung sering kali dianggap kuno, padahal ia adalah metode yang sangat luar biasa jika dilakukan dengan benar. Di kelas yang besar, kejelasan instruksi adalah kunci agar tidak ada anak yang tertinggal dalam kabut ketidaktahuan.

Pendidikan di Republik yang sangat kita cintai ini tidak bisa dibuka dengan pisau pengupas apel. Ia butuh kesabaran, butuh tangan yang kuat untuk membelah durinya, dan butuh hati yang luas untuk memahami keberagaman aromanya. Kita tidak perlu menjadi "apel" untuk dianggap hebat. Kita hanya perlu menemukan cara terbaik untuk menikmati "durian" kita sendiri.

Mungkin, arah pendidikan kita bukan tentang seberapa cepat kita meniru orang lain, tapi seberapa dalam kita mengenali diri sendiri. Merapi di sana tetaplah agung meski tertutup awan. Dan pendidikan kita, meski masih berbalut tantangan, tetap memiliki marwahnya sendiri selama kita berhenti memaksakan rasa yang bukan milik kita.

Pendidikan kita memang bukan apel yang manis dan mudah dikupas. Ia adalah durian yang menantang. Kita tidak bisa memaksa durian menjadi apel hanya dengan meniru warna kulitnya. Kita butuh keberanian untuk membenahi input, membangun budaya dari rumah, menyeimbangkan rasio, menumbuhkan rasa percaya, dan mengasah strategi mengajar yang membumi. Hanya dengan begitu, kita bisa menikmati isi durian yang legit dan istimewa ini, tanpa harus terus-menerus merasa iri pada kebun orang lain.

Minggu, 30 November 2025

Surat untuk Sang Mutiara Hati


Anakku
Dengarkanlah suara hati ini. Entah ia sampai padamu lewat bisikan lembut pengantar tidur, lewat deretan huruf di layar ponselmu, atau kelak hadir sebagai gema ingatan saat rindu memanggil sosok kami. Biarkan untaian kalimat ini menjadi selimut yang menghangatkan jiwamu di saat dunia terasa dingin, dan menjadi kompas saat langkahmu kehilangan arah. Simpanlah ini baik-baik di saku hatimu, sebagai bukti cinta yang tak akan pernah putus oleh waktu.

Nak,

Jangan sampai engkau sibuk memoles "sampul" agar terlihat megah dan kekinian, sementara isi kepalamu berdebu, terkunci pada ruang masa lalu yang pengap. Jangan biarkan dirimu menjadi antologi kebodohan yang terbungkus rapi. Jadilah samudera yang tak pernah menolak sungai-sungai ilmu baru; jangan menjadi cangkir retak yang merasa sudah penuh air, padahal sejatinya ia bocor dan kering.

Nak,

Biarkan gagasanmu yang membuat dunia berhenti sejenak dan menoleh, bukan sekadar merek mahal yang menempel di dadamu. Biarlah kehadiranmu menjadi solusi yang dinanti-nanti, bukan hartamu yang dipuja-puja. Ingatlah, kilau emas bisa pudar oleh karat dan waktu, tetapi ketajaman akal dan keluwesan wawasan adalah lentera yang apinya tak akan pernah mati, meski badai zaman menerjang.

 

Nak,

Ketahuilah, kecerdasan tanpa rasa hanyalah mesin yang dingin dan angkuh. Elok rupa tanpa etika hanyalah kerangka kosong yang hampa. Maka, saya berdoa semoga hatimu tumbuh melampaui usiamu. Bijaklah untuk mendengar di saat yang lain sibuk berteriak. Bijaklah untuk merasakan luka orang lain sebelum engkau menghakiminya. Bijaklah untuk menjadi manusia yang tugas utamanya adalah memanusiakan sesama.

 

Jadilah indah, Nak. Bukan hanya indah dipandang mata, tapi indah yang menyejukkan rasa dan mendamaikan logika.

 

Nak

Janganlah engkau seperti ilalang yang menari elok hanya karena mengikuti arah angin, tetapi patah begitu badai datang. Jadilah seperti pohon beringin yang akarnya menghunjam kuat ke dalam bumi keyakinan, meski dahannya menjulang tinggi menyentuh langit zaman.

 

Biarkan orang lain sibuk memamerkan "buah" keberhasilan mereka yang ranum. Tugasmu bukan untuk pamer, tapi untuk memastikan "akarmu" tidak busuk. Karena ketahuilah, Nak, pohon yang tumbang bukan karena angin yang terlalu kencang, tapi karena akarnya yang lupa cara mencengkeram tanah.

 

Nak

Dunia ini panggung sandiwara yang bising. Jika engkau hanya mengandalkan wajah dan pakaianmu, engkau hanya akan menjadi properti panggung yang diganti saat layar ditutup. Tapi jika engkau mengandalkan ilmu dan adab, engkau adalah naskah yang akan selalu dikenang meski pertunjukan telah usai.

 

Maka, rendahkan hatimu serendah mutiara di dasar laut, agar tak sembarang orang bisa menginjakmu. Jadilah mahal, Nak. Bukan karena barang yang kau pakai, tapi karena prinsip yang kau pegang tak bisa dibeli dengan harga berapa pun.

 

Nak

Hidup ini bukan tentang siapa yang paling terang lampunya, tetapi siapa yang paling berani menyalakan lilin di tengah kegelapan orang lain. Jangan sampai engkau menjadi menara gading yang megah, tapi pintunya tertutup rapat bagi mereka yang membutuhkan berteduh.

 

Gelar di belakang namamu hanyalah deretan huruf mati jika ia tidak mampu menghidupkan harapan orang lain. Jabatanmu hanyalah kursi kosong jika ia tidak engkau gunakan untuk mengangkat derajat mereka yang terjatuh.

 

Nak

Kelak engkau akan paham, bahwa wangi parfum termahal pun akan hilang terbawa angin. Namun, wangi kebaikan hati akan tetap tercium bahkan setelah engkau tiada.

 

Jangan hanya pandai menghitung untung dan rugi, tapi pandailah menghitung berapa banyak air mata yang sudah kau seka, dan berapa banyak senyum yang sudah kau ukir.

 

Jadilah manusia yang genap. Genap akalnya untuk berpikir benar. Genap hatinya untuk merasa peka. Agar kehadiranmu bukan menjadi beban bumi, melainkan menjadi rahmat bagi semesta.

 

Nak

Jangan habiskan usiamu untuk memahat topeng agar disukai dunia, sementara wajah aslimu di balik sana menangis kesepian. Jangan biarkan "feed" sosial mediamu penuh warna, namun hari-harimu sebenarnya kelabu dan hampa makna.

 

Keindahan fisik itu seperti bunga potong; segar sesaat lalu layu dibuang. Namun keindahan akhlak itu seperti mata air, semakin diambil manfaatnya, semakin jernih ia mengalir.

 

Nak

Engkau tidak diciptakan untuk menjadi replika orang lain. Engkau adalah mahakarya Tuhan yang otentik. Jangan tukar harga dirimu dengan validasi semu berupa "like" dan pujian palsu.

 

Beranilah menjadi berbeda karena benar, daripada sama tapi salah. Beranilah terlihat sederhana namun kaya gagasan, daripada terlihat mewah namun miskin tujuan.

 

Jadilah sejuk, Nak. Sejuk bagi mata yang memandang, sejuk bagi telinga yang mendengar, dan sejuk bagi hati yang merindukan kedamaian.

Selasa, 25 November 2025

Di Balik Riuh Perdebatan: Sebuah Surat untuk Guru


Zaman telah bergulir begitu cepat, membawa kita pada masa segala sesuatu diukur, dinilai, dan diperdebatkan bahkan untuk sebuah ketulusan yang bernama "pengabdian."

Hari Guru, yang sejatinya adalah momen hening untuk menundukkan kepala mengenang jasa, kini berubah menjadi medan pertempuran opini yang memekakkan telinga. Di media sosial, suara-suara itu bersahutan tak kenal ampun.

Ada yang berteriak lantang, "Stop normalisasi hadiah! Itu membebani!" Ada yang membalas dengan sengit, "Ini bentuk kasih sayang kami! Jangan atur rasa terima kasih kami!" Ada pula yang menyindir pedih, "Kenapa hanya wali kelas yang dirayakan? Bukankah semua guru mendidik anakmu?" Hingga ancaman dingin yang membuat nyali ciut, "Hati-hati, hadiah itu bisa jadi gratifikasi. Guru bisa terjerat hukum."

Tahu kah kita siapa yang paling terluka di tengah riuh rendah perdebatan ini?

Bukan orang tua yang dompetnya tebal, bukan pula pengamat pendidikan yang pandai bicara. Yang paling terluka adalah mereka yang berdiri diam di depan papan tulis: Para Guru.

Bayangkan perasaan mereka. Pagi hari mereka berangkat dengan niat suci mencerdaskan kehidupan bangsa, namun sesampainya di sekolah, mereka dihadapkan pada situasi yang tak pernah mereka minta.

Takut menerima setangkai bunga dari murid kecilnya, khawatir itu dianggap gratifikasi. Takut melihat tumpukan kado di meja rekan sebelahnya, sementara mejanya sendiri kosong, khawatir itu dianggap sebagai bukti ia tak dicintai. Takut tersenyum menerima ucapan terima kasih, khawatir dituduh mengharapkan pamrih.

Percayalah, demi Tuhan yang membolak-balikkan hati, para jiwa yang mengabdikan seluruh raganya di ruang kelas itu sama sekali tidak pernah meminta kado-kado mewah itu.

Di dalam benak mereka saat memilih jalan sunyi ini, tak terlintas sedikit pun bayangan tentang hampers mahal, buket uang, atau sanjungan berlebihan. Yang ada di benak mereka hanyalah wajah-wajah polos anak didik. Yang ada di doa malam mereka hanyalah harapan agar muridnya bisa lancar membaca, berhitung, dan tumbuh menjadi manusia yang beradab.

Guru tidak butuh perdebatan tentang siapa yang paling benar dalam memberi apresiasi. Karena bagi seorang pendidik sejati, "hadiah" termahal bukanlah barang yang bisa dibungkus kertas kado. Hadiah termahal bagi mereka adalah ketika sepuluh atau dua puluh tahun lagi, murid yang dulu nakalnya luar biasa, datang kembali berdiri tegak di hadapannya sebagai manusia sukses yang berakhlak mulia, lalu menyapa dengan santun: "Bapak/Ibu, terima kasih. Saya jadi seperti ini karena kesabaran Anda dulu." Itulah emas permata bagi seorang guru.

Kelak, ketika riuh rendah perdebatan ini mereda dan hari berganti bulan, bunga-bunga ucapan itu pasti akan layu. Kado-kado indah itu akan usang dimakan waktu. Namun, di sudut ruang kelas yang sunyi, saat bel pulang telah berbunyi dan sekolah kembali sepi, sang Guru akan tetap duduk di sana.

Ia akan menatap kursi-kursi kosong bekas kalian duduk, dengan rambut yang semakin memutih dan tenaga yang perlahan surut. Di saat itulah ia menyadari satu kebenaran yang paling sunyi:

"Anak-anakku, aku tidak butuh hadiahmu untuk membuktikan bahwa aku berharga. Sesungguhnya, kalianlah hadiah itu."

Kamis, 25 Agustus 2022

Survey Karakter

Asesmen Nasional

Silahkan akses materi berikut:

Klik di sini untuk mengakses materi

 
1.      Apa itu Survei Karakter

Survei Karakter  (SK ) adalah upaya untuk mengetahui kondisi ekosistem karakter para murid di sekolah terkait apakah azas pancasila benar-benar dirasakan para murid dalam interaksi di sekolah.

Survei Karakter adalah upaya untuk mengetahui kondisi ekosistem karakter para murid di sekolah terkait apakah azas Pancasila benar-benar dirasakan para murid dalam interaksi di sekolah. Ini kompetensi minimum kompetensi dasar yang dibutuhkan murid untuk bisa belajar apa pun materinya.

Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.

2.      Latar Belakang Survei Karakter

Peningkatan mutu sistem pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian siswa dalam menguasai materi pelajaran dan nilai ujian akhir, apapun sebutannya. Keberhasilan sistem pendidikan lebih difokuskan pada pencapaian kompetensi siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Terlebih pada era transformasi pendidikan abad ke-21, dimana arus perubahan menuntut murid menguasai berbagai kecakapan hidup yang esensial untuk menghadapi berbagai tantangan abad ke-21 dimana siswa memiliki kecakapan belajar dan berinovasi, kecakapan menggunakan teknologi informasi, kecakapan hidup untuk bekerja dan berkontribusi pada masyarakat. Inilah yang menjadi latar belakang pelaksanaan survei karakter.

Selain tuntutan kecakapan abad 21, profil pelajar Pancasila juga menjadi rujukan pencapaian karakter bagi seluruh siswa di Indonesia. Bahkan profil pelajar pancasila ini sudah merangkum serangkaian kecakapan hidup abad 21.

3.      Tujuan Survei Karakter

Selama ini pemerintah hanya memiliki data kognitif dari para siswa tapi tidak mengetahui kondisi ekosistem di sekolah para siswa. Survei karakter ini akan menjadi panduan untuk sekolah dan pemerintah. Survei karakter diharapkan jadi tolok ukur untuk bisa memberikan umpan balik bagi sekolah dalam melakukan perubahan.

4.      Manfaat Survei Karakter

Ada 5 manfaat  Survei Karakter yang akan dilakukan Pemerintah menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim yaitu :

· Dengan Survei Karakter maka akan dapat diketahui kondisi ekosistem (hubungan timbal balik) di sebuah sekolah sebagai tempat belajar para muridnya.

· Dengan Survei Karakter (SK) maka akan dapat diketahui sejauh mana implementasi asas-asas Pancasila dapat dirasakan dan diamalkan oleh warga sekolah.

· Dengan Survei Karakter (SK) maka akan dapat diketahui apakah level toleransi sudah berjalan dengan baik (sehat) di suatu sekolah.

· Dengan Survei Karakter (SK) maka akan dapat diketahui apakah welfare (kebahagiaan anak di sekolah sudah mapan dan berjalan baik).

· Dengan Survei Karakter (SK) maka akan dapat diketahui masih adakah bullying yang terjadi pada siswa di sekolah.

5.      Indikator Capaian Survei Karakter

Survei karakter yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila.

Adapun Karakter pelajar Pancasila yang ingin dicapai dalam pelaksanaan survei karakter adalah :

· Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.

· Berkebhinekaan global

· Mandiri

· Bernalar kritis

· Kreatif

· Gotong royong

6.      Proses Survei Karakter

Survei karakter dilakukan bukan dalam bentuk tes yang harus dikerjakan oleh para murid. Para murid menjawab sejumlah pertanyaan yang sifatnya personal, terkait opini murid mengenai topik seperti gotong royong, Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi terkait esensi dan behavior dari topik-topik tersebut.

Survei tersebut akan didisain alat ukur yang sulit diakali oleh murid sehingga hasil dari survey tersebut dapat menggambarkan potret sesungguhnya dari karakter para murid di sekolah, dalam waktu tertentu.

Meskipun demikian, hasil survei ini tidak digunakan untuk menilai murid sebagai individu, tetapi untuk menilai keberhasilan sekolah dalam pengembangan karakter. Survei tersebut akan diikuti oleh murid pada pertengahan level yakni murid SD kelas IV, murid SMP kelas VIII, dan murid SMA/SMK kelas XI.

Survei tersebut dilakukan di tengah level agar sekolah dan pemerintah masih memiliki waktu untuk mendisain program pengembangan dan perbaikan lebih lanjut, bertolak dari hasil survei tersebut.

7.      Contoh Soal Survei Karakter

Untuk memberikan gambaran mengenai soal Survei Karakter, berikut ini dibagikan soal-soal survey karakter dan survey lingkungan belajar.

Soal Survey Karakter Level 1

Soal Survey Karakter Level 2

Soal Survey Karakter Level 3

Soal Survey Lingkungan Belajar


Kamis, 14 Juli 2022

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

A.    Facts

Melalui filosofi dan metafora “menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat kita merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama.

Kita semua tentu sepakat bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara natural adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, murid-murid kita sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri.

Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran guru dalam hal ini adalah mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya dan mengurangi kontrol guru terhadap mereka sehingga mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya. Tugas guru sebagai pendamping dalam pengembangan potensi kepemimpinan murid adalah memfasilitasi murid terutama dalam pengelolaan program yang tentunya berdampak kepada mereka. Pengelolaan program tersebut dijabarkan dalam sebuah aksi nyata

Dalam aksi nyata Modul 3.3 ini saya mengimplementasikan program yang sebelumnya telah direncanakan, yaitu program “Menumbuhkan BUDIGEM (Budaya Literasi Generasi Milenial)”. Program ini dilaksanakan oleh adanya berbagai alasan tentang pentingnya literasi di kalangan generasi  terutama generasi masa kini (generasi milenial)

1.      Latar Belakang

Literasi pada dasarnya adalah kemampuan seseorang dalam keterampilan membaca dan menulis. Hal tersebut sesuai dengan pengertian literasi sekolah menurut kementrian pendidikan dan kebudayaan adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa, dengan murid melakukan kegiatan minimal membaca dan menulis, berarti murid telah melakukan kegiatan literasi.

Persoalan literasi masih menjadi hal yang harus dibenahi di Indonesia. Padahal Buku memegang peranan sangat vital bagi kehidupan manusia. Hanya bangsa dengan minat baca yang tinggi menjadi prasyarat menuju masyarakat informasi yang merupakan ciri dari masyarakat modern. Sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni sangat diperlukan jelang Indonesia Emas pada tahun 2045.

Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Programme for International Student Assessment (PISA) diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). PISA adalah studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang diikuti oleh lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Setiap 3 tahun, murid-murid berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak, menempuh tes dalam mata pelajaran utama yaitu membaca, matematika dan sains.

Menurut survei UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001persen. Artinya dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang gemar membaca. Hasil riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca

Persaingan dunia yang kompetitif ini membuat generasi Indonesia harus membekali dirinya dengan keterampilan dan kompetensi pengetahuan yang banyak dari berbagai aspek kehidupan serta kemapuan berkomunikasi yang baik. Tingkat literasi yang tinggi akan menciptakan generasi muda yang cerdas memiliki daya pikir kritis yang lebih kreatif dan inovatif. Kecerdasan dapat berkembang apabila literasi telah terintegrasi dalam setiap detik waktu hidup mereka.

Liteasi tidak hanya membaca tetapi dilanjutkan dengan kegiatan menulis Dalam kegiatan menulis membutukan kosa kata yang diperoleh dari membaca. Setelah memiliki bahan tulisan,tantangan selanjutnya adalah mengembangkan gagasan, hal tersebut tentunya memerlukan waktu untuk mengembangkan ide. Dan proses itulah yang biasanya membuat orang malas menulis. Selain itu, kurangnya minat membaca merupakan penyebab rendahnya budaya literasi dindonesia. Terkadang beberapa orang tidak mengerti manfaat dari mmbaca sehinnga tidak tertarik melakukanya.

Sumber daya manusia ini sangat potensial untuk membangun bangsa, potensi yang dimaksud adalah bahwa generasi muda merupakan Agent of change (agen perubahan) sehingga kunci keberhasilan literasi sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia tapi dengan  kemajuan teknologi yang semakin canggih memunculkan kekhawatiran tersendiri khususnya di Indonesia, tingkat literasi yang rendah adalah hal yang terpenting yang harus dihadapi dan menjadi tantangan untuk meningkatan budaya literasi khususnya pemuda karena kurangnya kesadaran generasi muda akan pentingnya literasi dan belum ada rasa cinta yang tertanam dalam kegiatan menulis dan membaca.

Begitu pun dengan kegiatan sehari-hari peserta didik di sekolah, suara-suara murid baik dalam pembelajaran maupun di luar pembelajaran belum begitu terdengar, pilihan-pilihan belum terakomodasi, serta kurangnya rasa kepemilikan peserta didik baik di kelas maupun di sekolah. Sedangkan aset-aset sekolah cukup lengkap untuk mendukung pertumbuhan peserta didik dalam pembelajaran.

2.      Tujuan

Menumbuhkan budaya literasi pada generasi milenial merupakan sebuah program dengan tujuan untuk meningkatkan budaya literasi pada generasi milenial saat ini dan membangun kesadaran minat baca mereka, Pentingnya membudayakan minat baca akan menambah wawasan serta merubah pola pikir murid untuk mencintai membaca.

3.      Tolok Ukur

Tolak ukur dari inisiasi perubahan adalah tumbuhnya budaya literasi pada generasi masa kini (generasi milenial), sehingga dapat mengasah kemampuan untuk menjadi beripikir secara kritis, kreatif, inovatif serta menumbuhkan budi pekerti murid. Keterampilan berliterasi juga dapat mendorong murid untuk bisa memahami informasi secara reflektif, analitis dan krisis.

4.      Dukungan yang Dibutuhkan

Untuk melakasanakan aksi nyata diperlukan kolaborasi semua pihak di sekolah, sehingga saya memerlukan bantuan pemangku kepentingan di sekolah seperti; kepala sekolah, rekan sejawa, staf TU, peserta didik (murid). orangtua dan juga dukungan sarana dan prasarana..

5.      Linimasa Tindakan yang Dilakukan





B.     Feeling

Perasaan yang saya rasakan terkait aksi nyata tersebut adalah optimis dan sangat bersemangat, karena memiliki harapan besar kepada murid-murid untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai impian mereka. Saya juga merasa sangat antusias dan juga tertantang untuk menentukan langkah-langkah apa yang selanjutnya akan saya lakukan dalam aksi nyata ini dalam mengelola program yang berdampak pada murid, yaitu dalam hal membangun budaya literasi pada generasi milenial terutama di sekolah saya.

C.    Finding

Dalam aksi nyata kali ini hal yang menjadi pembelajaran berharga adalah bahwa sebuah perubahan haruslah dimulai dengan murid, oleh murid dan untuk murid karena sejatinya tugas kita sebagai pendidik adalah menuntun, memfasilitasi anak didik agar mereka mendapatkan hal yang bermanfaat untuk bekalnya dalam hidup bermasyarakat.

Selain itu sebagai guru, maka sangat penting untuk mengubah mindset atau sudut pandang kita terkait bagaimana mengelola program yang berdampak pada murid sehingga program yang terlaksana memberikan manfaat yang sangat besar dalam peningkatan mutu sumber daya manusia yang lebih baik.

D.    Future

            Saya berharap suasana kebatinan atau perasaan dan pikiran positif dalam melaksanakan aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid ini bisa saya terapkan secara konsisten sehingga akan memberikan warna dan mnciptakan sebuah perubahan di sekolah. 

        Sebagai seorang guru, maka saya harus mampu mengelola program yang memberikan dampak yang nyata dalam peningkatan bakat dan minat murid, yaitu dalam hal literasi. Pentingnya literasi dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan dan kemampuan murid dalam memahami informasi secara jelas. Penguasaan literasi ini penting dalam mencapai kesuksesan. Dengan berliterasi murid dapat mengembangkan wawasan murid seluas mungkin. Selain itu, pentingnya kesadaran literasi sangat mendukung keberhasilan siswa dalam menangani berbagai persoalan.

Dokumentasi Aksi Nyata