Blog Guru PPKn

Nilai-nilai Pancasila dalam Kerangka Praktik Penyelenggaraan Kekuasaan Negara.

Blog Guru PPKn

Upaya Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Blog Guru PPKn

Perlindungan dan Penegakan Hukum di Indonesia.

Minggu, 24 April 2022

Laporan Aksi Nyata Modul 2.1 dan 2.2 Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional

A.    Latar Belakang

Pada proses pembelajaran di dalam kelas, guru yang berperan dalam hal ini tentunya dihadapakan pada berbagai kenyataan-kenyataan seputar permasalahan dalam pembelajaran. Fakta yang ditemukan adalah pendidik tak lepas dengan situasi dimana setiap murid yang diajarkan memiliki berbagai macam keberagaman yang unik. Karakteristik murid yang bervariasi dan bermacam kekuatan yang dimilikinya serta keterampilan murid yang menarik. Ini merupakan sebuah tantangan bagi setiap pendidik untuk bisa memberikan keputusan dalam menyusun strategi pembelajaran yang berhubungan dengan fakta tersebut serta dengan memperhatikan pembelajaran yang berpihak kepada murid.

Menurut filosofi Ki Hadjar Dewantara, pendidik diibaratkan sebagai seorang petani dan murid-murid adalah benihnya. Petani harus mampu menyediakan wadah atau lahan bagi benih-benih tersebut dan melakukan berbagai cara serta usaha untuk menjaga kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan dari benih. Begitulah seorang pendidik dalam pembelajaran harus juga memperhatikan kekuatan kodrat anak yaitu kodrat alam dan kodrat zamannya, karena bagaimanapun pemberlakuan yang diberikan kepada anak harus berpihak pada anak. Peran dari seorang pendidik juga diutamakan untuk bisa mewujudkan profil pelajar Pancasila yang diharapkan bisa diintegrasikan dengan visi misi sekolah yang berpihak kepada murid. Program-program sekolah terkait dengan pembelajaran yang berpihak kepada murid harus lebih ditingkatkan dan dimaksimalkan guna mewujudkan lingkungan belajar yang menyenangkan, efektif dan optimal.

Berkaitan dengan fakta dan tantangan di atas, pendidik bisa menerapkan sebuah pembelajaran yang disebut dengan pembelajaran berdiferensiasi. Menurut Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap individu. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi pada kebutuhan belajar murid. Adapun keputusan tersebut dibuat berkaitan dengan: (1) lingkungan belajar yang “mengundang” murid untuk belajar; (2) tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas; (3) penilaian berkelanjutan; (4) merespon kebutuhan belajar murid dan (5) manajemen kelas yang efektif.

Sebelum pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi diterapkan, pendidik harus melakukan beberapa hal diantaranya pemetaan terhadap kebutuhan belajar murid dan menentukan strategi pembelajaran diferensiasi. Untuk melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid, pendidik harus memperhatikan tiga aspek kebutuhan belajar murid yaitu kesiapan belajar (readiness), minat dan profil/gaya belajar murid. Selain itu juga perlu untuk menentukan strategi pembelajaran diferensiasi yang akan diterapkan dalam pembelajaran seperti diferensiasi konten, proses dan produk. Setelah semuanya dapat didiagnosa dan ditentukan dengan baik, maka pendidik bisa memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi dan mampu untuk menciptakan lingkungan belajar dengan iklim yang menyenangkan, efektif, kondusif dan pastinya berpihak pada murid.

Adapun dalam pembelajaran di kelas perlu memperhatikan bagaimana perilaku anak ke diri sendiri, orang lain dan lingkungan yang akan mempengaruhi proses pembelajaran anak dan satu di antaranya adalah pembelajaran sosial emosional dengan akronim SEL atau Social Emotional Learning. Pembelajaran sosial emosional ini dilakukan oleh semua komunitas sekolah baik oleh anak dalam hal ini murid, pendidik maupun orangtua. Adapun kompetensi dari pembelajaran sosial emosional atau KSE yaitu kesadaran diri (mengenali emosi), pengelolaan diri (mengelola emosi dan fokus), kesadaran sosial (empati), keterampilan berhubungan sosial atau daya lenting (resiliensi) dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kelima kompetensi tersebut bisa diterapkan dalam proses pembelajaran dengan berbagai macam teknik yang bisa dilakukan, salah satunya adalah Latihan bernapas dengan kesadaran penuh STOP.

B.     Deskripsi Aksi Nyata

1.      Tujuan

a.     Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas dengan memperhatikan kebutuhan belajar siswa melalui pemetaan.

b.  Menerapkan strategi pembelajaran diferensiasi di kelas sesuai dengan pemetaan kebutuhan belajar siswa

c.  Mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional berupa salah satu atau dua dari kelima kompetensi sosial emosional dengan panduan teknik-teknik yang sudah ada.

2.      Tolok Ukur

a.  Tercapainya tujuan pembelajaran berdiferensiasi di kelas dengan beberapa aspek penilaian dari segi sikap, pengetahuan dan keterampilan

b.  Tercapainya pembelajaran sosial emosional di kelas dengan lembar observasi dari kompetensi sosial emosional yang diterapkan

3.      Linimasa Tindakan Yang Akan Dilakukan
Adapun rincian dari tindakan aksi nyata yang dilakukan: 

Minggu I
Meminta izin dan dukungan dari kepala sekolah serta sosialisasi kepada rekan sejawat di sekolah

Minggu II
Sosialisasi kepada siswa di kelas dan melakukan pemetaan kebutuhan belajar siswa. 

Minggu III
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional di kelas 

Minggu IV
Evaluasi dan refleksi dari pembelajaran berdiferensi dan kompetensi sosial emosional di kelas

4.      Dukungan Yang Dibutuhkan

        Dalam menerapkan aksi nyata pembelajaran berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional ini dibutuhkan beberapa dukungan dari berbagai pihak di sekolah terutama siswa sebagai subyek pelaksana kegiatan. Dukungan lain dari kepala sekolah, rekan sejawat dan sarana prasarana yang ada di sekolah

C.    Hasil Aksi Nyata

         Adapun hasil aksi nyata dari kegiatan pembelajaran berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional ini adalah:

1.    Terlaksananya rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdiferensiasi dan kompetensi sosial emosional dengan baik meliputi aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta lembar observasi kompetensi sosial emosional

2. Dalam kompetensi sosial emosional, siswa mampu melakukan teknik STOP dan memahami kesadaran diri serta sosial.

Proses implementasi pelaksanaan aksi nyata dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.      RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

·         Identitas Program Pendidikan     

Mata Pelajaran                  :   PPKn
Kelas / Semester               :   XI / Ganjil
Materi                       :   Harmonisasi Hak dan Kewajiban Asasi Manusia dalam Perspektif Pancasila
Sub Materi                        :    Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Alokasi Waktu                  :    2 JP : 1 x Pertemuan (2 x 30 menit) PTM Terbatas 

·       Tujuan Pembelajaran (ABCD : audience, behavior, conditioning, degree.
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran (mengamati tayangan video, mengamati kasus, diskusi, dan menggali informasi), peserta didik diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kasus pelanggaran hak asasi manusia.

a.       Pembelajaran Berdiferensiasi

1.      Diferensiasi Konten

·       Peserta didik diberi kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik berkaitan dengan materi Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia

·       Peserta didik dibentuk dalam 5 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan lembar kerja : untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber.

·       Peserta didik difasilitasi oleh guru membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia 

2.      Diferensiasi Proses

·      Sebelum kegiatan KBM di ruang kelas, guru mengirimkan informasi melalui WA Group Kelas untuk membuka tautan materi yang telah disiapkan pada LMS Schoology.  Materi yang disiapkan terdiri dari berbagai bentuk dengan tujuan untuk mengakomodir kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda.

·      Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik :
Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia, sesuai gaya belajar masing-masing.

·      Guru menjelaskan tahap pembelajaran yang akan dilakukan oleh peserta didik melalui slide presentasi yang informatif

·      Peserta didik secara mandiri menggali sebanyak mungkin informasi sesuai dengan topik.

ü  Tayangan video

ü  Infografis

ü  Artikel

ü  Mind Map

ü  PPT

·        Peserta didik mengamati masing-masing media tentang Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan guru bertanya  tentang isi dari media yang telah disiapkan. 

3.      Diferensiasi Produk

·         Peserta didik mengolah data hasil eksplorasinya

·   Peserta didik berdiskusi dalam kelompok kecil tentang data yang sudah dikumpulkan secara individu pada kegiatan sebelumnya

·   Peserta didik mengolah informasi yang sudah dikumpulkan dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.

·   Peserta didik dibebaskan untuk membuat rangkuman dari informasi yang didapatkan dalam ragam bentuk (Infografis, poster, mind map, PPT, google slide, atau flipping book) agar lebih mudah dan dirasa dapat menggambarkan pemahaman mereka.

b.      Pembelajaran Sosial dan Emosional

1.      Kegiatan Pendahuluan

·        KSE : Kesadaran Diri
Menyiapkan kondisi fisik dan psikis peserta didik melalui latihan bernafas dengan kesadaran penuh dengan metode STOP

2.      Kegiatan Inti

·       KSE : Keterampilan Berelasi
Peserta didik dibentuk dalam 6 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan lembar kerja :  untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber.

·       KSE : Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab
Peserta didik berdiskusi dalam kelompok kecil tentang data yang sudah dikumpulkan secara individu pada kegiatan sebelumnya

·       KSE : Kesadaran Sosial
Peserta didik menyajikan hasil kerjanya. Peserta didik yang lain menanggapi dan saling menghargai pendapat dalam diskusi. Sementara itu guru memfasilitasi, memantau, dan melakukan penilaian.

2.      Pelaksanaan Pembelajaran

Pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional ini dilaksanakan dengan pembelajaran tatap muka secara terbatas. Model pembelajaran yang digunakan adalah discovery learning dengan harapan pada akhir pembelajaran peserta didik dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Proses pembelajaran diawali dengan melakukan pemetaan kelompok diskusi berdasarkan minat belajar peserta didik pada kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu yaitu peristiwa tanjung priok, kasus pembunuhan Marsinah, tragedi Trisakti, kasus pembunuhan Munir, tragedi Semanggi, dan pelanggaran HAM Papua.

Pembimbingan kelompok diskusi dilakukan berdasarkan kebutuhan kelompok melalui whatsapp group. Peserta didik yang tergabung dalam kelompok diskusi dibebaskan untuk membuat rangkuman dari informasi yang didapatkan dalam berbagai ragam bentuk media yang diminati (Infografis, poster, mind map, PPT, google slide, atau flipping book) agar lebih mudah dan dirasa dapat menggambarkan pemahaman mereka

D.    Refleksi Aksi Nyata

Aksi nyata yang telah dilakukan berjalan dengan baik. Namun perlu dimaksimalkan lagi karena alokasi waktu yang terbatas untuk tatap muka dalam pembelajaran. Pada proses pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional ini, awalnya mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan diferensiasi dan sosial emosional pada tahapan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Perlu rancangan yang matang dalam penjabarannya. Namun, setelah terintegrasi pada tahapan pembelajaran, ternyata pelaksanaannya menjadi lebih menyenangkan. Hal ini dikarenakan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan pada kebutuhan peserta didik, kesiapan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik. Dengan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar, peserta didik dapat lebih semangat, lebih memaksimalkan kinerja belajarnya sehingga tujuan belajar dapat tercapai dengan baik. Selain itu, pembelajaran sosial emosional juga sangat mendukung pembelajaran. Melalui PSE, peserta didik menjadi semakin sadar akan posisi mereka, hadir sepenuhnya dalam pembelajaran, lebih tenang dan fokus dengan tujuan pembelajaran, dapat berlatih mengambil keputusan sesuai dengan minat mereka tentang kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi di Indonesia.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional, peserta didik terlihat lebih nyaman dalam belajar karena dapat menyesuaikan dengan kesiapan, minat, profil belajarnya sehingga kemerdekaan belajar dapat terwujud dan meningkatkan prestasi akademik menjadi lebih baik.

E.     Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

1.    Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan alokasi waktu serta ketersediaan sarana prasarana untuk lebih mendukung proses pembelajaran supaya lebih menarik, menyenangkan dan berpihak pada siswa.

2.    Memperbaiki pola diferensiasi terutama pada sisi diferensiasi proses pembelajaran agar lebih bervariasi lagi.

3.    Meningkatkan pembelajaran social emosional (PSE) baik melalui kegiatan yang terintegrasi dalam pembelajaran, kegiatan rutin, atau bahkan budaya positif sekolah sehingga keterampilan social emosional dapat dikuasai oleh peserta didik. Semoga dapat berkolaborasi dengan semua guru mata pelajaran tentang pembelajaran berdiferensiasi dan social emosional, sehingga tercipta lingkungan belajar yang mampu mengundang peserta didik untuk belajar secara merdeka dan nyaman, layaknya taman siswa Ki Hajar Dewantara yang menyenangkan.

F.    Dokumentasi
Berikut potret dokumentasi aksi nyata pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosial
1.      Pemetaan Kebutuhan Belajar Peserta Didik
a.       Penyiapan materi diskusi kelompok sesuai sub materi pembelajaran yang akan dilaksanakan.

      b.   Pemilihan materi diskusi kelompok berdasarkan minat peserta didik melalui padlet.

        c.   Hasil pemetaan materi diskusi kelompok berdasarkan pilihan peserta didik.

2.      Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional di Kelas
a.      Kegiatan Pendahuluan
·         Orientasi
Pembukaan (salam pembuka, berdo’a, absensi kelas, dan lain-lain)

      ·      Informasi hasil pemetaan materi diskusi kelompok sesuai kebutuhan beajar peserta didik.


·                                                 ·         Menyiapkan kondisi fisik dan psikis peserta didik melalui latihan bernafas dengan                                    kesadaran penuh dengan metode STOP (KSE : Kesadaran Diri)

      ·     Apersepsi
Mengaitkan pembelajaran yang telah lalu, serta pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik.

·      Motivasi dan Pemberian Acuan
     Menampilkan video motivasi 

                    b.    Kegiatan Inti
·   Stimulation (Pemberian Rangsangan)
ü  Menampilkan video ilustrasi tentang materi pembelajaran

ü  Menggali informasi dari berbagai media.

              ·     Problem Statement (Pertanyaan/identifikasi Masalah)
     Mengidentifikasi hal yang belum dipahami

·     Data Collection (Pengumpulan Data) 
     Membentuk kelompok diskusi untuk membentuk informasi

·     Data Processing (Pengolahan Data)
     Berdiskusi dan mengolah informasi

·     Verification (Pembuktian)
     Menyajikan hasil kerja (presentasi) 

·     Generalization (Menarik Kesimpulan) 
     Menarik kesimpulan materi yang telah dipelajari

C.   Kegiatan Penutup
·    Refleksi pembelajaran dan refleksi diri


·    Agenda kegiatan tindak lanjut, rencana pembelajaran pertemuan yang akan datang, berdo’a, dan salam penutup.

3.      Dokumentasi pada LMS Pembelajaran
a.       Tahapan Pembelajaran

      

b.       Kelompok Diskusi

        


                            c.       Refleksi Pembelajaran dan Refleksi Diri
                                    

4.      Dokumentasi lainnya
a.       Link Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
       RPP pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional dapat diakses (di sini)

      b.    Link Video Aksi Nyata
       Video aksi nyata dapat diakses (di sini)

      c.    Link laporan aksi nyata modul 2.1 dan 2.2
       Laporan aksi nyata ini dapat diakses (di sini)






ü 








Kamis, 07 April 2022

2.3.a.9. Koneksi Antarmateri – Coaching


A.    Pendidikan Sistem Among

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru dapat berperan sebagai edukator, manajer, motivator, fasilitator, coach, mentor, maupun administrator bagi peserta didik. Namun peran penting dari kepemimpinan seorang guru adalah sebagai agen perubahan dan agen transformasi di dunia pendidikan. Tugasnya adalah menuntun tumbuh kembangnya kekuatan kodrat yang dimiliki oleh peserta didik, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya. Dalam proses menuntun, peserta didik diberi kebebasan dan pendidik/guru sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan arahan agar peserta didik tidak kehilangan arah. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan agar peserta didik dapat menemukan kemerdekaan dan kebahagiannya dalam belajar.

B.     Pengertian Coaching

Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil, dan sistematis dimana coach sebagai fasilitator untuk meningkatkan performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi coachee.

C.    Perbedaan Coaching, Konseling, dan Mentoring

Perbedaan coaching, konseling, dan mentoring dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Coaching dilakukan dengan tujuan agar coachee dapat menyelesaikan permasalahannya dengan memaksimalkan potensinya sendiri. Hubungan antara coach dengan coachee adalah kemitraan. Dalam hubungan ini akan membantu coachee mengarahkan untuk mengambil keputusannya sendiri. Coaching dapat dilakukan oleh seorang yang ahli di bidang coach, guru, atau rekan sejawat
  •  Konseling dilakukan dengan tujuan untuk membantu konseli dalam memecahkan masalahnya, konselor juga dapat langsung memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Konseling dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidangnya.
  • Mentoring dilakukan dengan tujuan untuk membantu mentee menyelesaikan masalah dengan berbagi pengalaman atau berbagi tips bagaimana menyelesaikan masalah.

D.    Prinsip-prinsip Coaching

Terdapat 3 prinsip-prinsip coaching, yaitu:
1. Kemitraan
Kemitraan ditandai adanya tujuan percakapan yang disepakati oleh coachee.
2. Percakapan dua arah
Hal ini dilakukan untuk menggali, memetakan situasi coachee, atau memunculkan pemikiran atau ide-ide yang baru.
3. Memaksimalkan potensi
Percakapan ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh coachee serta menghasilkan rencana dan komitmen

E.     Keterampilan Dasar Coaching

Ada 3 keterampilan dasar dalam melaksanakan coaching, yaitu:
1. Keterampilan membangun hubungan baik (kemitraan)
2. Keterampilan berkomunikasi
3. Keterampilan memfasilitasi pembelajaran

Untuk mendukung terlaksananya coaching, seorang coach harus membangun komunikasi yang memberdayakan. Ada 4 aspek komunikasi yang memberdayakan, yaitu:
1. Komunikasi Asertif
2. Pendengar aktif yang mendengarkan dengan rasa (receive, appreciative, summary, ask)
3. Bertanya efektif, terbuka, fokus pada tujuan, reflektif, mengukur pemahaman, eskplorasi, dan aksi.
4. Umpan balik positif

F.     Coaching Model Tirta

Dalam membangun semangat merdeka belajar dan meningkatkan potensi murid, seorang guru tentunya harus menguasai keterampilan coaching. Model Tirta merupakan salah satu yang dapat diterapkan dalam praktik coaching. Terdapat 4 tahapan coaching model TIRTA, yaitu:
1. Tujuan Utama
2. Identifikasi
3. Rencana Aksi
4. Tanggung Jawab

G.    Keterkaitan Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Memiliki tujuan yang sama yaitu, untuk meningkatkan potensi murid sesuai bakat, minat, dan kesiapan belajar. Melalui pembelajaran berdiferensiasi guru diharapkan menerapkan coaching model TIRTA sebagai salah satu cara untuk menuntun dan mengembangkan potensi murid sesuai kemampuannya sendiri.

H.    Keterkaitan Coaching dengan Keterampilan Sosial Emosional.

Coaching sangat berkaitan dengan keterampilan sosial emosional saat coach melaksanakan coaching, tentunya harus memiliki dan mampu mengimplementasikan 5 kompetensi dasar keterampilan sosial emosional, yaitu;
1. Kesadaran diri
2. Pengelolaan diri
3.  Kesadaran sosial
4. Keterampilan sosial
5. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Dalam menuntun, membimbing dan mengarahkan coachee, seorang coach harus dapat mendorong dan menggali segala potensi yang ada pada dirinya dalam kegiatan rutin, terintegrasi dalam mata pelajaran dan protokol.

I.       Refleksi
1. Melalui coaching akan terbangun kolaborasi antara coach dan coachee untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi agar hidupnya menjadi bahagia.
2. Kemampuan komunikasi yang memberdayakan menjadi kunci dari proses coaching sebab coach akan menuntun dengan berbagai pendekatan dan teknik untuk mendorong coachee agar dapat menemukan solusi dan mengambil keputusan dari permasalahannya sendiri berdasarkan potensi yang dimilikinya.

J.      Kesimpulan

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi menggunakan keterampilan sosial emosional dan coaching model TIRTA dapat mewujudkan merdeka belajar sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara.

Kamis, 17 Februari 2022

AKSI NYATA DAN DISEMINASI MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF


A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah sebuah tuntunan dalam hidup dan tumbuh kembang anak. Setiap anak memiliki kekuatan dirinya sendiri, memiliki pengalaman dan kekayaan. Pendidikan haruslah membimbing dan menguatkan apa yang ada di dalam diri setiap anak agar dapat memperbaiki tingkah lakunya, cara hidupnya dna pertumbuhannya. Dalam proses menuntut, anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang merdeka.

Ki Hajar Dewantara (KHD) mengingatkan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Guru sebagai pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Dalam proses menuntun tersebut, anak  diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai individu yang unik, akan tetapi guru sebagai pamong harus memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Guru diharapkan memiliki nilai-nilai positif yang dibutuhkan untuk membentuk karakter pelajar Pancasila dengan memberi contoh dan melakukan pembiasaan yang konsisten di sekolah. Pengembangan budaya positif dapat menumbuhkan motivasi instrinsik dalam diri anak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta akhlak mulia. Sangat penting bagi guru untuk dapat  mengembangkan budaya positif di sekolah  agar  dapat menumbuhkan motivasi intrinsik  dalam diri murid-muridnya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab  dan  berbudi pekerti luhur.

Perlu kita ketahui bersama bahwa tujuan membangun  budaya positif di sekolah adalah menumbuhkan karakter anak. Kita semua percaya bahwa tujuan penting sekolah adalah pembentukan karakter. Guru perlu membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat. 

Dalam menerapkan budaya positif, tentunya tidak terlepas dari bagaimana kemampuan warga sekolah mengenali, merefleksikan atau pun mengevaluasi diri masing-masing atas segala kejadian atau pengalaman yang telah berlalu. Mengenali diri, merefleksi atau mengevaluasi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Ini adalah suatu yang harus dilakukan dengan sadar dan terencana. Tidak spontan. Untuk itu perlu diberi ruang dan peluang. Di sana orang merenungkan apa yang sudah dilakukannya. Hal ini harus dilakukan agar kita mendapat kekuatan baru untuk melangkah ke depan dan menciptakan budaya positif di sekolah yang dapat menumbuhkan karakter positif  yang bukan hanya mendorong murid untuk sukses secara akademik tetapi juga untuk menanam moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat. Oleh karena itu, betapa pentingnya menumbuhkan budaya positif di sekolah dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri).

 

B.     Tujuan


       Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan pelaksanaan aksi nyata, yaitu:

  1. Terwujudnya visi sekolah melalui penerapan budaya positif
  2. Menumbuhkan karakter yang kuat melalui pembiasaan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri.
  3. Menguatkan karakter positif melalui pembiasaan-pembiasaan positif
  4. Menumbuhkembangkan karakter profil pelajar Pancasila yaitu pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
  5. Menguatkan peran sebagai guru penggerak melalui penerapan dalam menanamkan disiplin positif pada peserta didik

C.    Deskripsi Aksi Nyata
1. Perencanaan
    Pada tahap perencanaan, hal-hal yang dilakukan, yaitu:
    a. Menyusun rancangan aksi nyata
    b. Membuat instrumen
    c. Mendiskusikan rencana dengan rekan sejawat
    d. Koordinasi rencana aksi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
    e. Koordinasi rencana aksi dengan pimpinan (Kepala Sekolah)
  f. Melakukan revisi terhadap rancangan aksi nyata sebagai tindak lanjut dari hasil konsultasi dengan rekan sejawat, Waka Kurikulum dan Kepala Sekolah

    2. Pelaksanaan

        a. Melaksanakan budaya positif dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan positif di kelas maupun di lingkungan sekolah tentunya dengan penerapan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri.
        b. Melakukan diseminasi konsep dan implementasi budaya positif dengan rekan sejawat dan Kepala Sekolah.
        c. Melakukan kegiatan pembentukan dan deklarasi keyakinan kelas
        d. Melakukan aksi layanan segitiga restitusi
        e. Penerapan disiplin positif.

3. Evaluasi
          Hal-hal yang dilakukan pada tahap evaluasi, yaitu:
    a. Pengolahan data hasil aksi nyata
    b. Melakukan pembahasan hasil aksi nyata
    c. Pengambilan kesimpulan
    d. Penyusunan rencana tindak lanjut
    e. Membuat video dan artikel serta laporan aksi nyata 

D.    Hasil Aksi Nyata (Tolok Ukur Keberhasilan)
Berdasarkan hasi aksi nyata menumbuhkan budaya positif dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri), maka diperoleh hasil aksi nyata (tolok ukur keberhasilan) sebagai berikut:
1. Pembiasaan-pembiasaan positif di kelas maupun di lingkungan sekolah tentunya dengan penerapan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri) semakin tumbuh dan berjalan dengan baik.
2. Terciptanya sikap saling memahami kelebihan dan kekurangan diri dan saling mengenali pola kebiasaan yang sering dijalani di kelas dan di sekolah.
3. Terbentuknya keyakinan kelas yang dideklarasikan secara bersama sebagai landasan utama dalam menyikapi segala permasalahan yang muncul di kelas maupun di sekolah.
4. Dukungan dari Kepala Sekolah, rekan guru, dan peserta didik menjadi kekuatan dalam pelaksanaan kegiatan.
5. Komitmen bersama antara guru dan peserta didik dalam menjalankan keyakinan kelas dalam pembelajaran secara konsisten
6. Meningkatnya keaktifan dan daya nalar kritis peserta didik dalam kegiatan pembelajaran

E.     Tantangan

Dalam melaksanakan kegiatan aksi nyata dan diseminasi budaya positif, tentunya terdapat berbagai hal yang menjadi tantangan tersendiri, yaitu:
1. Pelaksanaan kegiatan yang berjalan agak lama karena pandemi Covid-19.
2. Belum semua rekan guru menerapkan budaya positif di kelas, seperti keyakinan kelas dan layanan segiitiga restitusi.
3. Komunikasi yang kurang efektif oleh adanya perbedaan pandangan/konsep dalam mendidik dan menciptakan budaya positif.

F.     Refleksi
Dalam melaksanakan aksi nyata menumbuhkan budaya positif dengan pembiasaan KRE-D (Kenali, Refleksi, dan Evaluasi Diri), tentunya terdapat berbagai pelajaran yang bisa dipetik sebagai pengalaman berharga, yaitu:
1. Kegiatan aksi nyata dan diseminasi yang baik harus terencana dengan baik
2. Pentingnya arti menghargai dan mengapresiasi segala yang terdapat pada diri peserta didik
3. Dalam pendidikan, warga sekolah harus membiasakan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri demi tercapainya pendidikan yang lebih baik.
4. Komunikasi yang baik menjadi salah satu faktor utama dalam menjalin hubungan yang harmonis di antara warga sekolah.
5. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan.

G.    Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

     Dalam pelaksanaan aksi nyata, tentunya masih ditemukan hal-hal yang perlu ditingkatkan sehingga perlu perbaikan di masa mendatang. Rencana perbaikan yang akan dilakukan, yaitu:
1. Menyusun instrumen umpan balik yang akan diberikan pada peserta didik dan rekan guru terkait aksi nyata yang dilakukan.
2. Melakukan diskusi dengan peserta didik dan rekan guru terkait ide atau saran yang diperlukan demi peningkatan aksi nyata
3. Membangun komunikasi yang efektif dalam menyatukan konsep pembiasaan budaya positif di sekolah.

H.    Dokumentasi Kegiatan
1. Membuat Rancangan Aksi Nyata dan Diseminasi Konsep dan Implementasi Budaya Positif Melalui Koordinasi dengan Pimpinan/Kepala Sekolah.

2. Pembiasaan mengenali, merefleksi, dan mengevaluasi diri peserta (menggali kelebihan dan kelemahan pada diri).



3. Membangun dan mendeklarasikan keyakinan kelas





     4. Membangun konsep pentingnya arti menghargai





  5. Diseminasi konsep dan implementasi budaya positif

           

             6. Link Video Youtube

a.       1.4.Aksi Nyata – Budaya Positif

https://youtu.be/2lU9QHSU79A

b.      Diseminasi Konsep dan Implemntasi Budaya Positif di Sekolah

https://youtu.be/lNJ-wRFA7dQ


Terima Kasih

Salam Guru Penggerak
Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan