Aku belajar bahwa ikhlas tidak pernah dimulai dengan senyum.
Ikhlas dimulai dengan rahang yang
mengeras menahan getir, dengan dada yang sesak namun tetap berkata "tak
apa," dengan tangan yang gemetar tapi tetap merelakan sesuatu pergi.
Dan hari ini, setelah sekian lama, aku
akhirnya mengerti.
Aku pernah menyimpanmu di sudut hati
yang paling hangat. Tempat yang kujaga khusus, yang kubersihkan dari debu-debu
keraguan. Aku menanam harapan di sana, menyiramnya setiap hari dengan doa-doa
kecil, percaya bahwa suatu saat akan tumbuh bunga yang mekar sempurna.
Tapi bunga tak pernah mekar.
Yang tumbuh justru duri. Dan aku tetap
memeluknya, berdarah tapi berkata, "tidak apa, mungkin aku kurang sabar."
Kekecewaan pertama datang seperti
bocor kecil di atap. Masih bisa kutampung dengan ember, masih bisa kusapu bila
tumpah. Tapi kau terus datang dengan kekecewaan-kekecewaan lain, dan bocor itu
semakin lebar, sampai akhirnya atap itu rubuh, menimpa seluruh rumah yang
kumiliki.
Aku marah. Tentu saja aku marah.
Aku marah pada keadaan yang
mempertemukan, pada waktu yang membiarkan aku terlalu dalam, dan paling marah
pada diriku sendiri, yang tahu dari awal tapi memilih tetap di sini.
Tapi kau tahu? Kemarahan itu
melelahkan.
Suatu malam, di antara isak yang tak
bersuara, aku duduk di lantai kamar. Hujan di luar, dan aku membiarkan jendela
terbuka. Angin dingin membawa masuk butir-butir air, membasahi wajah yang sudah
basah.
Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya,
aku tak lagi bertanya, "Kenapa ini terjadi padaku?"
Aku hanya bertanya, "Mau
apa Engkau dengan sakit ini?"
Ikhlas, rupanya, bukan tentang
melupakan. Bukan pula tentang memaafkan sepenuhnya.
Ikhlas adalah ketika kau bisa
mengingat seseorang tanpa perih yang menusuk. Ketika namanya tak lagi membuat
dadamu sesak. Ketika kau bisa melewati tempat-tempat kenangan tanpa harus
menoleh dan menangis.
Ikhlas adalah ketika kau menerima
bahwa ada bab yang harus ditutup, meskipun kau belum siap berhenti membaca.
Aku ikhlas pada semua kekecewaan yang
kau beri.
Bukan karena aku rela kehilangan, tapi
karena aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah mengambil tanpa alasan. Pasti ada
yang salah dari caraku mencintai, atau mungkin ada yang lebih indah yang sedang
disiapkan, yang takkan bisa kujangkau bila tanganku masih sibuk memegangmu.
Aku ikhlas pada janji-janji yang kau
ingkari.
Pada waktu-waktu yang kau buang
sia-sia.
Pada semua tanya yang tak pernah kau
jawab.
Pada kepergianmu yang tak kau beri
tanda.
Aku ikhlas.
Dan rasanya... seperti menghembuskan
napas panjang yang sejak dulu kutahan. Seperti melepas jangkar yang selama ini
membuat perahu tak bisa berlayar.
Mungkin kau tak pernah tahu, dan tak
akan pernah tahu bahwa di balik senyum yang sekarang kau lihat, ada proses yang
sangat panjang. Ada malam-malam tanpa tidur, ada doa yang tak terucap, ada
perang batin yang takkan pernah cukup diceritakan dengan kata-kata.
Tapi tak apa.
Karena ikhlas mengajarkan satu hal:
bahwa kekecewaan bukanlah akhir dari segalanya. Ia hanyalah lorong gelap yang
harus kulalui untuk sampai ke tempat yang lebih terang.
Dan hari ini, aku sudah hampir sampai
di ujung lorong itu. Aku bisa melihat cahaya. Samar, tapi nyata.
Terima kasih untuk semua kecewa yang
kau titipkan.
Semoga jejeran kekecewaan itu memberikan pelajaran yang tak akan pernah cukup kusebut satu per satu.
Karena pada akhirnya, aku berutang budi pada setiap malam yang terasa panjang tanpa akhir. Pada setiap "mengapa" yang tak berjawab. Merekalah yang diam-diam mengajariku tentang kekuatan yang tak pernah kusadari ada di dalam diri.










